Adab Dalam Medsos, Apa Sajakah? (1)

Wisma Akhwat ThaybahAkhlak Islami, NasihatLeave a Comment

Media sosial atau medsos (atau sosmed) bisa jadi dikategorikan sebagai kebutuhan primer bagi manusia era 2000-an. Membicarakan medsos tidak akan habisnya dengan berbagai munculnya teknologi-teknologi mutakhir yang senantiasa memicu tren manusia untuk selalu berkembang, dengan berbagai konten-konten viralnya yang tidak akan pernah vakum, dan dengan berbagai unsur kepentingan manusia lainnya yang ada saja.

Adapun seorang muslim juga memiliki sudut pandang terkait membicarakan medsos. Hal menarik di dalam pembicaraan medsos ialah bagaimana seharusnya seorang muslim menggunakan medsos, apa saja panduan-panduannya, dan apa saja yang menjadi batasan-batasannya.

Batasan? Tentu, karena bicara tentang Islam, tentu bicara tentang syariat sebagai pemberi batasan kebebasan manusia. Mempunyai akun medsos, bagi seorang muslim, bukan berarti dia memiliki kebebasan tak terbatas akan ungkapan pendapatnya, tulisannya, maupun aktivitas lainnya. Memiliki kebebasan bukan berarti memiliki kebahagiaan yang lebih. Syariat tahu akan hal itu. Maka, cobalah kita petik seuntai hikmah dalam beberapa adab berikut.

Berikut beberapa sorotan yang perlu diperhatikan dalam bermedsos:

  1. Mengucapkan salam

Adalah sebuah adab yang menjadi ciri khas seorang muslim. Bukan, bukan “selamat pagi”, bukan “halo bro”. Ada yang lebih baik dan berpahala, yaitu seperti yang dituntunkan oleh Nabi kita Muhammad-Shallallahu ‘alaihi wa Sallam-:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا مَرَّ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي مَجْلِسٍ فقَالَ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ” فقَالَ عَشْرُ حَسَنَاتٍ ثُمَّ مَرَّ رَجُلٌ آخَرَ فقَالَ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ فقَالَ عِشْرُونَ حَسَنَةً فَمَرَّ رَجُلٌ آخَرَ فقَالَ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ فقَالَ ثَلَاثُونَ حَسَنَةً …الخ

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang pemuda melewati Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sedang dalam keadaan duduk disebuah Majelis. Maka Pemuda ini mengucapkan “Assalamu’alaikum”, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan : “bagi dia 10 kebaikan”. 

Lalu, lewat Pemuda yang lain dan mengatakan : “Assalamu’alaikum wa rahmatullah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan : “Bagi dia 20 kebaikan”. 

Kemudian lewat lagi Pemuda yang lainnya mengatakan : “Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuhu” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan :”Bagi dia 30 kebaikkan”. [1]

Yap, “Assalaamu’alaikum” = 10 kebaikan; “Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi” = 20 kebaikan; “Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh” = 30 kebaikan.

Bagi seorang muslim yang sejati, tidak diragukan lagi ini ‘iming-iming’ yang begitu memikat. Juga, pikirkan tentang kebaikannya di dunia. Bayangkan, sembari kita bertemu saudara kita yang seiman dan sevisi dalam akhirat, kita saling mendoakan kebaikan. “Semoga kamu diberi keselamatan, akhiy”, “Semoga kamu juga sama, wahai saudaraku”. Tentu salam diiringi dengan senyuman yang merekah, asyik bukan?

Lihatlah, bagaimana Islam mengajarkan kehangatan dan keramahan sesama saudara. Lihatlah, bagaimana kehangatan itu membawa keakraban walaupun pada saudara kita yang bahkan tak kita kenal. Lihatlah, bagaimana muslim itu diajarkan untuk senantiasa menebar kebaikan.

Bayangkan saja kehidupan seperti itu, asyik bukan?

Bukankah pasti ada tambahan rasa cinta dan kenyamanan setelah untaian salam tadi? Bukankah pasti ada ikatan hati yang lebih dekat, sehingga muncul keengganan untuk berkonflik setelah senyuman tadi?

Bandingkan bila ketika bertemu dengan teman, chat kawan tanpa salam. Ah, rasanya kering kerontang dari keramahan dan keberkahan.

Alangkah indahnya apabila dalam bermedsos kita bumbui chat kita, posting kita, komentar kita, twit kita, broadcast kita, Skype kita dengan ucapan salam khas seorang muslim ini.

Hal Penting:

a.) Menulis Salam

Memang telah banyak dari saudara-saudara kita yang sudah melakukan hal ini-walhamdulillah-. Namun, sedikit ada yang perlu diluruskan sehingga lebih terasa manfaatnya. Yakni, ketika menuliskan lafal salam, seyogyanya kita menuliskan dengan baik dan benar.

Mengapa demikian? Ya, karena beberapa yang terkadang nampak ialah saudara-saudara kita menuliskan lafal salam dengan “Ass.”, “Ass. Wr. Wb.”, bahkan seperti “Samekum”, “Salamekum”.

Ya akhiy, ketahuilah bahwa itu kan bukan salamnya orang Islam, bukan? Rasanya, menyingkat salam itu seperti agak kurang beradab, karena mengapa kita harus merasa lelah hanya untuk mengetik satu kalimat salam saja? Dan ngomong-ngomong, bukankah singkatan di atas bermakna kurang baik? Coba ditranslasi dalam bahasa Inggris…

Bila memang tergesa-gesa, tidak menuliskan pun juga tidak mengapa daripada kita dikhawatirkan tergolong mengolok-olok syariat Islam, ya seperti ucapan “Samekum” hasil dari plesetan salam, walaupun tak sengaja. Senantiasa kita merasa takut akan melakukan yang demikian.

b.) Menjawab Salam

Bila kita menemukan posting, chat, twit, broadcast, atau apalah itu, dari teman muslim kita, hendaknya kita membalas dengan balasan salam serupa, atau lebih baik daripadanya.

Misal, bila diucapkan “Assalaamu’alaikum Warahmatullahi”, balaslah ucapan serupa, atau yang lebih baik “Wa’alaikumussalaamu Warahmatullahi Wabarakaatuh”. Jangan dibalas hanya dengan “Wa’alaikumussalaam” saja. Ini karena perintah dari Allah ‘Azza wa Jalla dalam firman-Nya:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” [2]

Juga, seringkali kita terfokus pada konten yang teman kita share, tapi lupa ternyata dia memberi salam. Jangan lupa, jawaban salam dari kita itu wajib lo. [3]

  1. Memulai dengan Basmalah

Menulis postingan, broadcast, atau twit itu ibarat menulis risalah/surat yang kita tujukan untuk orang lain, hanya saja sampainya jauh lebih cepat dan lebih banyak orang yang melihat. Di sini, ada sunnah Rasulullah yang perlu kita “up” lagi agar semakin banyak yang tahu.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menulis surat memulai dengan bismillaahirrahmaanirrahiim”. [4]

Kenapa harus Basmalah? Ikut sunnahnya Nabi. Ya, itu poin pertama dan terpenting. Simak sabda beliau-Shallallahu ‘alaihi wa Sallam- berikut:

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه بـ ” بسم الله ” فهو أبتر ” ، أي: ناقص البركة

“Setiap perkara (kehidupan) yang tidak dimulai dengan ‘Bismillahirrahmaanirrahiim’, maka dia akan terputus (maksudnya adalah kurang barakahnya)”. [5]

Syaikh Shalih al-Fawzan-hafizhahullah- memiliki perkataan yang bagus mengenai sunnah ini:

والحكمة في البدء ببسم الله الرحمن الرحيم التبرك بها لأنها كلمة مباركة فإذا ذكرت في أول الكتاب أو في أول الرسالة تكون بركة عليه. أما الكتب أو الرسائل التي لا تبدأ ببسم الله الرحمن الرحيم فإنها تكون ناقصة لا خير فيها، ومن ناحية أخرى بسم الله الرحمن الرحيم فيها الاستعانة بالله جل وعلا

“Hikmah yang tersimpan dalam mengawali perbuatan dengan ‘Bismillahirrahmaanirrahiim’ adalah demi mencari barakah dengan membacanya. Karena ucapan ini adalah kalimat yang berbarakah, sehingga apabila disebutkan di permulaan kitab atau di awal risalah maka hal itu akan membuahkan barakah baginya. Selain itu di dalamnya juga terdapat permohonan pertolongan kepada Allah Ta’ala”. [6]

*

Insya’Allah tulisan ini bersambung pada bagian selanjutnya. Bagian selanjutnya akan membahas apa yang layak ditulis dalam medsos, bagaimana adab bercengkrama dengan friend, apakah info bermanfaat mesti di-share, dll.

Semoga Allah Ta’Ala memberikan keberkahan kepada penulis dan para pembaca agar merasakan manfaat dari faidah tulisan kecil ini.

Alloohumma sholli wa sallim ‘alaa Nabiyyiina Muhammad. Walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.

كتب على

19 Syawwal 1437 H

=========

Referensi:

  1. Artikel muslimafiyah.com
  2. Artikel rumaysho.com
  3. Artikel tashfiyah.or.id

Footnote:

[1]  HR. Ibnu Hibban 493, Abu Daud 5195, Tirmidzi 2689

[2]  QS. An Nisa’: 86

[3] Kitab Subulus Salam 7/7

[4]  Lihat Shahih Bukhari 4/402 Kitabul Jihad Bab Du’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ilal Islam wa Nubuwah wa ‘an laa Yattakhidza Ba’dhuhum Ba’dhan Arbaaban min duunillaah wa Qauluhu ta’ala Maa kaana libasyarin ‘an yu’tiyahullaahu ‘ilman ila akhiril ayah, Fathul Bari 6/109

[5]  HR. Ibnu Hibban

[6]  Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat, Program Maktabah salafiyah

 


Diambil dari: rejalsunni.tumblr.com

Artikel akhwat.thaybah.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*