Islam Telah Memuliakanmu

Ummu MusaArtikel, NasihatLeave a Comment

Yaa akhwati fillah, semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati kita. Pernahkah terpikir oleh kita bahwa islam membatasi kebebasan wanita? Atau berpikir bahwa apa yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan terhadap wanita merupakan suatu ketidakadilan? Saudariku, jika kita melihat dan merenungkan maka kita akan sangat setuju bahwa sebenarnya islam sangat memuliakan dan mengagungkan wanita. Islam benar-benar memperhatikan kemuliaan wanita muslimah, wanita begitu dijunjung dan dihargai dalam segala perannya.

Saat menjadi seorang anak

Saat kita menjadi anak, kelahiran anak perempuan merupakan sebuah kenikmatan agung, Islam memerintahkan untuk mendidiknya dengan baik dan akan memberikan balasan yang besar sebagaimana yang terkandung hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا، جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ» وَضَمَّ أَصَابِعَهُ

Siapa yang menanggung nafkah dua anak perempuan sampai baligh, maka pada hari kiamat, antara saya dan dia seperti ini. Beliau menggabungkan jari-jarinya. (Muslim 2631, dan Ibnu Abi Syaibah 25439).

Dan anak perempuan dapat menjadi tameng kedua orang tuanya dari api neraka. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits dari A’isyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

Suatu hari, ada seorang ibu bersama dua putrinya menemuiku untuk meminta sesuatu. Namun aku tidak memiliki makanan apapun selain satu buah kurma. Akupun memberikan satu kurma itu ke sang ibu. Kemudian dia membagi dua kurma itu dan memberikannya kepada anak-anaknya, sementara dia tidak memakannya. Lalu dia keluar dan pergi.

Setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan aku ceritakan kejadian itu kepada beliau. Lalu beliau bersabda,

مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ البَنَاتِ بِشَيْءٍ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

Siapa yang diuji dengan kehadiran anak perempuan, maka anak itu akan menjadi tameng baginya di neraka. (HR. Ahmad 24055, Bukhari 1418, Turmudzi 1915).

Saat menjadi seorang istri

Saat menjadi seorang istri, islam sangat memperhatikan hak-hak kita sebagai wanita karena wanita di umpamakan seperti tulang rusuk yang bengkok. Sebagaimana yang diterangkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ، وَِإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلْعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ وَفِيْهَا عِوَجٌ

“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan sungguh bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atasnya. Bila engkau ingin meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau ingin bersenang-senang dengannya, engkau bisa bersenang-senang namun padanya ada kebengkokan.” (HR. Al-Bukhari no. 3331 dan Muslim no. 3632).

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini ada dalil dari ucapan fuqaha atau sebagian mereka bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk. Hadits ini menunjukkan keharusan berlaku lembut kepada wanita, bersikap baik terhadap mereka, bersabar atas kebengkokan akhlak dan lemahnya akal mereka. Di samping juga menunjukkan dibencinya mentalak mereka tanpa sebab dan juga tidak bisa seseorang berambisi agar si wanita terus lurus. Wallahu a’lam.”[1]

Dalam Al-Qur’an pun Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan agar para suami berinteraksi dengan cara yang baik. Sebagaimana yang terkandung dalam ayat berikut, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para istri) secara patut.” (An-Nisa`: 19)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat di atas menyatakan: “Yakni perindah ucapan kalian terhadap mereka (para istri) dan perbagus perbuatan serta penampilan kalian sesuai kemampuan. Sebagaimana engkau menyukai bila ia (istri) berbuat demikian, maka engkau (semestinya) juga berbuat yang sama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hal ini:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (Al-Baqarah: 228)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِيْ

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarga (istri)nya. Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluarga (istri)ku.”[2]

Saat menjadi seorang ibu

Ketika menjadi seorang ibu, seorang anak diwajibkan untuk berbakti kepadanya, berbuat baik kepadanya dan haram hukumnya untuk menyakitinya. Bahkan perintah berbuat baik kepada ibu disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ،  مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟

قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

“Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. [3]

Semua itu tidak lain karena kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala kepada kita sebagai wanita, namun kebanyakan dari kita tidak mau bersyukur. Sebenarnya masih sangat banyak bukti-bukti kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala kepada kita. Renungkanlah, masihkah kita berfikir bahwa islam membatasi kebebasanmu, wahai wanita? Masihkah berfikir bahwa apa yang telah Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan kepada kita adalah sebuah ketidakadilan? Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala sangat menyayangi dan memuliakan wanita melalui islam. Maka tidaklah berlebihan kalimat berikut, “Jika kita mengetahui segala hikmah apa yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan, maka cinta dan imanlah yang akan semakin bertambah”

Setelah kita mengetahui betapa islam memuliakan seorang wanita lantas apa yang harus kita lakukan sebagai wanita? Menjaganya. Jagalah kemuliaan yang telah Allah subhanahu wa ta’ala anugerahkan kepada kita. Semoga Allah mudahkan kita dalam menjaganya.

Footnote:

[1] Kitab Al-Minhaj, 9/299.

[2] Kitab Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 2/173.

[3] Lihat Tafsir Al-Qurthubi, X/239.


Penulis: Ummu Hafshah

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*