Kenapa Tak Kita Coba?

Ummu MusaAkhlak Islami, ArtikelLeave a Comment

Saudariku yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala, sebagai manusia yang pada dasarnya adalah makhluk sosial sudah pasti kita akan berinteraksi dengan sesama. Sudah kita pahami bahwa setiap orang memiliki karakter atau akhlak yang berbeda-berbeda. Setiap diri seseorang pasti memiliki kebaikan dan keburukan akhlak masing-masing. Terkadang dalam berinteraksi pun kita akan menemukan banyak hal yang kita sukai dari diri saudari kita namun pasti ada hal atau perilaku yang membuat jengkel atau perasaan semacamnya. Dari hal tersebutlah terkadang kita juga akan merasakan ketidakcocokan, benturan dalam bergaul dengannya.

Berbicara ketidakcocokan yang mungkin disebabkan oleh kesalahan saudari kita, maka akhlak yang mulia untuk membalasnya ialah dengan menjadi pribadi yang pemaaf dan tidak menjadi seorang pendendam. Terlebih lagi jika saudari kita telah mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Menyikapi hal ini, rasanya sulit memang untuk memaafkan dan berbuat baik kepada orang yang telah menyakiti kita. Namun ukhty, jika kita mau mencoba berfikir lebih dewasa, apakah kesalahan saudarimu sangatlah fatal sehingga diri ini enggan memberi maaf? Kenapa tak kita coba untuk membalasnya dengan kebaikan?

Adapun perintah Allah subhanahu wa ta’ala kepada umatnya untuk menjadi pribadi yang pemaaf terdapat dalam banyak ayat Al-Qur’an. Sebagaimana dalam ayat berikut, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ

“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (Al A’raf: 199)

Dalam surat dan ayat lain pun Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ

“… Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka.” (Ali Imran: 159)

Maka sebagai makhluk sosial dimana kita tidak akan bisa hidup seorang diri, sehingga kita pun tidak akan ingin dijauhi oleh orang yang berada disekitar kita. Hal ini juga menunjukkan bahwa islam mengajarkan umatnya untuk berakhlak mulia, dan islam pun tidak mengajarkan kita untuk bersikap keras dan berhati kasar dalam mengajak manusia. MasyaaAllah.

Dan dalam Surat An Nur ayat 22, Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan,

﴿وَلَا يَأۡتَلِ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An Nur: 22)

Dari ayat diatas, Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan, “Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?”. Hal ini menunjukkan perintah bagi setiap muslim dimana sudah menjadi sebuah keharusan untuk memaafkan saudaranya.

Keutamaan Memaafkan

Jika kita melihat firman Allah subhanahu wa ta’ala dan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan, maka terkandung banyak keutamaan dalam akhlak mulia ini.

Pertama. Mendatangkan Kecintaan

Sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Dan sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (Fushshilat: 34-35)

Ibnu Katsir menerangkan: “Bila kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu maka kebaikan ini akan menggiring orang yang berlaku jahat tadi merapat denganmu, mencintaimu, dan condong kepadamu sehingga dia (akhirnya) menjadi temanmu yang dekat. Ibnu ‘Abbas mengatakan: ‘Allah memerintahkan orang beriman untuk bersabar di kala marah, bermurah hati ketika diremehkan, dan memaafkan di saat diperlakukan jelek. Bila mereka melakukan ini maka Allah menjaga mereka dari (tipu daya) setan dan musuh pun tunduk kepadanya sehingga menjadi teman yang dekat’.” [1]

Kedua. Memperoleh Ampunan dan Kecintaan Allah

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ مِنۡ أَزۡوَٲجِكُمۡ وَأَوۡلَـٰدِڪُمۡ عَدُوًّ۬ا لَّڪُمۡ فَٱحۡذَرُوهُمۡ‌ۚ وَإِن تَعۡفُواْ وَتَصۡفَحُواْ وَتَغۡفِرُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ

“Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (At Taghabun: 14)

Adalah Abu Bakr –radhiyallahu ‘anhu- dahulu biasa memberikan nafkah kepada orang-orang yang tidak mampu, di antaranya Misthah bin Utsatsah. Dia termasuk famili Abu Bakr dan muhajirin. Di saat tersebar berita dusta seputar ‘Aisyah binti Abi Bakr –radhiyallahu ‘anhum- istri Nabi, Misthah termasuk salah seorang yang menyebarkannya. Kemudian Allah menurunkan ayat menjelaskan kesucian ‘Aisyah dari tuduhan kekejian. Misthah pun dihukum dera dan Allah memberi taubat kepadanya. Setelah peristiwa itu, Abu Bakr –radhiyallahu ‘anhu- bersumpah untuk memutuskan nafkah dan pemberian kepadanya. Maka Allah menurunkan firman-Nya:

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (An-Nur: 22)

Abu Bakr –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan: “Betul, demi Allah. Aku ingin agar Allah mengampuniku.” Lantas Abu Bakr –radhiyallahu ‘anhu- kembali memberikan nafkah kepada Misthah. (lihat Shahih Al-Bukhari no. 4750 dan Tafsir Ibnu Katsir 3/286-287)

Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

“Sayangilah –makhluk– maka kamu akan disayangi Allah, dan berilah ampunan niscaya Allah mengampunimu.” [2]

Ketiga. Mendapat Pembelaan dari Allah

Al-Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- bahwa ada seorang laki-laki berkata: ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku punya kerabat. Aku berusaha menyambungnya namun mereka memutuskan hubungan denganku. Aku berbuat kebaikan kepada mereka namun mereka berbuat jelek. Aku bersabar dari mereka namun mereka berbuat kebodohan terhadapku.” Maka Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Jika benar yang kamu ucapkan maka seolah-olah kamu menebarkan abu panas kepada mereka. Dan kamu senantiasa mendapat penolong dari Allah atas mereka selama kamu di atas hal itu.” (HR. Muslim)

Keempat. Mulia Disisi Allah dan Manusia

Suatu hal yang telah diketahui bahwa orang yang memaafkan kesalahan orang lain, disamping tinggi kedudukannya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, ia juga mulia di mata manusia. Sebagaimana dalam hadits berikut, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

“Shadaqah –hakikatnya– tidaklah mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan, dan tiada seorang yang rendah hati (tawadhu’) karena Allah melainkan diangkat oleh Allah.” (HR. Muslim)

Saudariku, setelah apa yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan untuk senantiasa memafkan dan begitu banyak keutamaannya. Maka, kenapa tak kita coba? Mari mulai saat ini kita berusaha menjadi pribadi yang senantiasa memaafkan. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mudahkan.

 

Penulis: Ummu Hafshah

Sumber:

[1] Radio Kita 94.3 FM Cirebon 2 Sya’ban 1435 H/31 Mei 2014 M, “Suka Memaafkan dan Keutamaannya”. Pondok Pesantren Assunnah Cirebon, jl. Kalitanjung No. 52B, Kesambi, Cirebon.

[2] Majalah Asy Syariah Edisi 053/1431 H 2011 M. Artikel “Memaafkan Kesalahan dan Mengubur Dendam” disusun oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc.


[1] Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim 4/109

[2] Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 293

 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*