Sifat Wanita Penghuni Surga

Ummu MusaArtikel, Fiqih MuslimahLeave a Comment

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Saudariku, setelah membahas bagaimana ciri-ciri wanita penghuni neraka. Pasti kita akan merasa sangat takut terjerumus kedalamnya. Namun jangan menjadikannya sebagai alasan untuk berkecil hati. Sikap yang baik ialah dengan terus memperbaiki diri. Surga dan neraka, sudah menjadi hal yang berdampingan. Maka tidak afdhol rasanya jika hanya membahas salah satunya saja. Ya, surga, suatu hal yang sudah seharusnya menjadi target setiap muslim dan muslimah.

Wanita-wanita penghuni surga, siapa yang tidak ingin menjadi salah satu bagian dari mereka? Bahkan setiap muslimah harus memiliki keinginan tersebut agar terus termotivasi untuk memperbaiki dirinya. Berbicara mengenai wanita penghuni surga, pasti ada kebaikan-kebaikan yang ada padi diri wanita untuk dapat menjadi wanita penghuni surga. Lalu bagaimanakah ciri-ciri wanita penghuni surga tersebut?

Dalam salah satu ayat pada Surat An Nisa’, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ

“… Wanita (istri) shalihah adalah yang taat lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah memelihara mereka.” (an-Nisa: 34)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘di rahimahullah berkata, “Tugas seorang istri adalah menunaikan ketaatan kepada Rabbnya dan taat kepada suaminya, karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Wanita salihah adalah yang taat,’ yakni taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, ‘Lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.’ Yakni taat kepada suami mereka bahkan ketika suaminya tidak ada (sedang bepergian, pen.), dia menjaga suaminya dengan menjaga dirinya dan harta suaminya.”[1]

Disebutkan dalam ayat yang mulia diatas bahwa wanita shalihah ialah wanita senantiasa taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, serta taat kepada suaminya dalam hal yang ma’ruf (karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al Khaliq) dan senantiasa memelihara (menjaga) dirinya ketika tidak sedang bersama suaminya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ المَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya, ‘Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai’.” (HR. Ahmad 1/191, HR. Ibnu Hibban dalam Shahihut Targhib: 1931, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no. 660, 661)

Dari hadits diatas, kita dapat mengetahui bahwa wanita harus tunduk kepada apa yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan baik itu shalat, puasa dan ibadah lainnya. Wanita juga harus menjaga kesucian dirinya dari perbuatan-perbuatan yang Allah murkai. Dan wanita juga diwajibkan untuk taat kepada suaminya.

Selain ayat Al-Qur’an dan hadits diatas, Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan dalam firmannya dimana ayat ini turun ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi permasalahan dengan istri-istrinya sampai beliau bersumpah tidak akan mencampuri mereka selama sebulan, Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan kepada Rasul-Nya:

عَسَىٰ رَبُّهُۥٓ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبۡدِلَهُۥٓ أَزۡوَٰجًا خَيۡرٗا مِّنكُنَّ مُسۡلِمَٰتٖ مُّؤۡمِنَٰتٖ قَٰنِتَٰتٖ تَٰٓئِبَٰتٍ عَٰبِدَٰتٖ سَٰٓئِحَٰتٖ ثَيِّبَٰتٖ وَأَبۡكَارٗا ٥

“Jika sampai Nabi menceraikan kalian, mudah-mudahan Rabbnya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian, muslimat, mukminat, qanitat, taibat, ‘abidat, saihat dari kalangan janda ataupun gadis.”(at-Tahrim: 5)

Dalam ayat tersebut disebutkan beberapa sifat-sifat wanita penghuni surga yakni;

  • Muslimat: wanita-wanita yang ikhlas (kepada Allah subhanahu wa ta’ala), tunduk kepada perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan perintah Rasul-Nya.
  • Mukminat: wanita-wanita yang membenarkan perintah dan larangan Allah subhanahu wa ta’ala.
  • Qanitat: wanita-wanita yang taat.
  • Taibat: wanita-wanita yang selalu bertaubat dari dosa-dosa mereka, selalu kembali kepada perintah (perkara yang ditetapkan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun harus meninggalkan apa yang disenangi oleh hawa nafsu mereka.
  • ‘Aibat: wanita-wanita yang selalu bertaubat dari dosa-dosa mereka, selalu kembali kepada perintah (perkara yang ditetapkan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun harus meninggalkan apa yang disenangi oleh hawa nafsu mereka.
  • Saihat: wanita-wanita yang berpuasa. [2]

Dalam banyak hadits pun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan bagaimana sifat dari wanita-wanita penghuni surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ الْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِى إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا، وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوقُ غَضْمًا حَتَّى تَرْضَى

“Maukah aku beri tahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata, “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, asy- Syaikh Albani rahimahullah, no. 287)

Sehingga wanita penghuni surga ialah wanita yang penuh kasih sayang, mempunyai banyak keturunan. Dan wanita tersebut tidak akan tenang selama suaminya belum meridhainya. Selain itu, selalu berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya sehingga bila suaminya memandang akan menyenangkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرٍ مَا يَكْنِزُ ا رْملَْءُ، ا رْملَْأَةُ الصَّالِحَةُ إِذَا نَظرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ، وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ، وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri salihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan menaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.”(HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam al-Jami’ush Shahih 3/57, “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda,

لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِي عَنْهُ

“Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya.” (HR. an-Nasai dalam Isyratun Nisa. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 289)

Maka dari itu, sebagai wanita kita haruslah berusaha untuk dapat menghiasi diri dengan sifat-sifat diatas. Karena sebenarnya yang menentukan tempat terakhir kita ialah kita sendiri.

Wallahu a’lam

 

Penulis: Ummu Hafshah

Referensi:

[1] Majalah Asy Syariah Edisi 012/1431H 2011M. “Istri Shalihah, Sifat dan Keutamaannya”, ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah

[2] Wanita yang Masuk Surga dari Pintu Mana Saja yang Dikehendakinya, ditulis oleh Abu Abdillah Sofyan Chalid bin Ruray dalam artikel sofyanruray.info


[1] Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 177

[2] Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 18/126—127, Tafsir Ibnu Katsir, 8/132

 

Artikel Akhwat.Thaybah.id

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*