Keutamaan Sikap Lemah Lembut

Ummu MusaAkhlak Islami, ArtikelLeave a Comment

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَا نْفَضُوْا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَا وِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ المُتَوَكِّلِيْنَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”

(Q.S Ali Imran Ayat 159)

Dalam ayat diatas, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk berakhlak mulia, yang mana satu diantara akhlak yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan ialah lemah lembut. Dan tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan akhlak mulia kecuali terdapat keutamaan-keutamaan yang ada padanya. Adapun keutamaan-keutamaan tersebut,

Ciri-ciri Pengikut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Allah subhanahu wa ta’alamengingatkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ

“Maka dengan rahmat Allah-lah engkau menjadi lembut terhadap mereka dan jika engkau keras hati niscaya mereka akan lari dari sisimu.”

(Ali ‘Imran: 159)

As-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan, “Dengan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala yang diberikan kepadamu dan kepada para sahabatmu, engkau dapat bersikap lemah lembut terhadap mereka, merendah di hadapan mereka, menyayangi mereka, serta kebagusan akhlakmu terhadap mereka. Sehingga mereka mau berkumpul di sisimu, mencintaimu, dan melaksanakan segala apa yang kamu perintahkan. Jika kamu memiliki akhlak yang jelek dan keras niscaya mereka akan menjauhimu, karena yang demikian itu akan menyebabkan mereka lari dan menjadikan mereka murka terhadap orang yang memiliki akhlak yang jelek tersebut.

Jika akhlak yang baik menyertai seorang pemimpin di dunia maka akan menarik/memikat orang-orang menuju agama Allah dan akan menjadikan mereka mencintai agama. Bersamaan dengan itu, pemilik akhlak tersebut akan mendapatkan pujian dan pahala yang khusus.

Jika akhlak yang jelek melekat pada seorang pemuka agama, akan menyebabkan orang lain lari dari agama dan akan membenci agama. Bersamaan dengan itu, dia akan mendapatkan cercaan dan ganjaran dosa yang khusus.

Kalau demikian Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan Rasul-Nya yang ma’shum (terbebas dari dosa-dosa), maka bagaimana lagi dengan selain beliau (dari kalangan manusia)? Bukankah termasuk kewajiban yang paling wajib untuk mengikuti akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bergaul bersama manusia sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama mereka dengan kelemahlembutan, akhlak yang baik, kasih sayang, dalam rangka melaksanakan perintah-perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan menarik manusia ke dalam agama Allah subhanahu wa ta’ala?”

“(Betapa) tingginya kedudukan lemah lembut dibanding akhlak-akhlak terpuji lainnya. Dan orang yang memiliki sifat ini pantas baginya untuk mendapatkan pujian dan pahala yang besar dari Allah subhanahu wa ta’ala. Bila sifat lemah lembut ini ada pada seseorang dan menghiasi dirinya maka akan menjadi (indah) dalam pandangan manusia dan lebih dari itu dalam pandangan Allah subhanahu wa ta’ala. Sebaliknya jika memiliki sifat yang kasar, angkuh, dan keras hati niscaya akan menjadikan dirinya jelek dan tercela di hadapan manusia.” [1]

Salah Satu Pemberian Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Dalam ayat yang sama, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ

Maka dengan rahmat Allah-lah kamu bisa bersikap lemah lembut kepada mereka.”

(Ali ‘Imran: 159)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لاَ يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

“Sesungguhnya Allah Mahalembut serta mencintai kelembutan, dan Allah memberikan kepada sifat lembut yang tidak diberikan pada sifat kasar dan sifat lainnya.”

(HR. Muslim no. 2593)

Mendapat Pujian dan Kecintaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“(Orang-orang yang bertakwa adalah) orang-orang yang menahan marahnya dan memaafkan kesalahan (orang lain). Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

(Ali ‘Imran: 134)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

يَاعَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِيْ الأَمْرِ كُلِّهِ

“Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan di dalam semua urusan”

(HR. Bukhari no. 6927)

Dalam hadits lainnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada al-Asyaj Abdul Qais radhiallahu ‘anhu,

إنَّ فيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ : الْحِلْمُ وَالأنَاةُ

Sesungguhnya pada dirimu ada dua sifat yang dicintai oleh Allah: lemah lembut dan tidak tergesa-gesa.”

(HR. Muslim no. 17 dan no. 25)

Mendatangkan Kebaikan dan Menghiasi Pemiliknya

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anhu-, Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِنَّالرِّفْقَ لاَيَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَ عُ مِنْ شَيءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Sungguh, segala sesuatu yang dihiasi kelembutan akan nampak indah. Sebaliknya, tanpa kelembutan segala sesuatu akan nampak jelek”

(HR. Muslim no. 2594)

Dan dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah –radhiyallahu ‘anhum- bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda.

مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ

“Barangsiapa yang tidak memiliki sifat lembut, maka tidak akan mendapatkan kebaikan”

(HR. Muslim no. 2592)

Mempermudah Diterimanya Dakwah

Allah pernah memerintahkan dua orang NabiNya yang mulia yaitu Musa dan Harun untuk mendakwahi Fir’aun dengan lembut. Allah Ta’ala berfirman.

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia telah berbuat melampui batas. Berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia mau ingat atau takut”

(Thaha : 43-44)

Allah juga menjelaskan bahwa para sahabat yang mulia senantiasa saling bekasih sayang. Allah Ta’ala berfirman.

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad itu adalah utusan Allah. Orang-orang yang selalu bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”

(Al-Fath : 29)

Adapun bersikap lemah lembut, maka siapa yang mengikuti petunjuk Nabi shallallahu alaih wa sallam, niscaya akan mendapati bahwa beliau shallallahu alaih wa sallam adalah orang yang penuh kelembutan kepada umatnya. Contoh yang paling nyata ialah kisah seorang Arab pedalaman yang masuk masjid kemudian pergi ke sudut masjid dan kencing di sana. Ketika itu, orang-orang langsung bangun dan mencelanya, karena apa yang dilakukannya adalah kemungkaran yang sangat besar. Akan tetapi Nabi shallallahu alaih wa sallam melarang mereka dan mereka pun diam. Setelah orang Arab pedalaman itu selesai, Nabi shallallahu alaih wa sallammenyuruh orang untuk menyiramkan seember air pada bekas kencingnya, sehingga najisnya hilang. Beliau shallallahu alaih wa sallam memanggil orang Arab pedalaman itu dan berkata,“Sesungguhnya masjid tidak boleh ada padanya sedikit dari kotoran dan najis. Masjid hanyalah untuk shalat, dzikir, dan membaca Al-Quran.” Demikian riwayat yang ada dalam Shahih al-Bukhari. Dan dalam Musnad Imam Ahmad, orang Arab pedalaman itu berkata, “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan jangan Kau rahmati siapapun selain kami.” Mengapa sampai demikian? Karena Nabi Muhammad shallallahu alaih wa sallam bersikap lemah lembut ketika memberinya pengajaran. [2]

 

Sumber:

[1] Buletin As Sunnah Tahun 1437 H 2016 M. Sekretariat: Graha Al-Ilmu, Nitipuran No.285 Rt.8 Gg.Trajumas Dk.Sonosewu Yogyakarta, HP: 085729231531

[2] Buletin Asy Syariah Edisi 002/ Tahun 1432 H 2011 M. “Lemah Lembut” disusun oleh al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah

[3] Almanhaj.or.id

[4] Salafy.or.id


[1] kitab Bahjatun Nazhirin (1/683)

[2] ash-Shahwah al-Islamiyyah, Dhawabith wa Taujihaat, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*