Tafaqquh Fiddin Bagi Wanita

Ummu MusaAkhlak Islami, ArtikelLeave a Comment

Seperti yang telah kita pahami bahwa setiap ibadah yang kita kerjakan itu memiliki syarat, rukun maupun ketentuannya masing-masing. Dan tidak lah ada jalan untuk mengetahui dan memahaminya kecuali dengan ilmu. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim.”

(HR. Ahmad dan Al Baihaqy)

Ibnul Jauzy rahimahullah berkata, “Perempuan adalah seorang yang mukallaf seperti laki-laki. Oleh karena itu, dia wajib menuntut ilmu tentang perkara-perkara yang diwajibkan terhadapnya agar ia menunaikan ibadah tersebut di atas keyakinan.” [1]

Tercatat indah dalam sejarah, perihal semangat para shahabiyat radhiyallahu ‘anhunna dalam hal menuntut ilmu dan bertanya akan berbagai problematika yang tengah mereka hadapi tanpa terhalangi oleh rasa malu mereka. Hal tersebut menunjukkan kewajiban menuntut ilmu yang tertanam dalam jiwa-jiwa mereka yang terpuji. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

نِعْمَ النِّسَاءِ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ لَمْ يَكُنْ يَمْنَعُهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِي الدِّينِ

“Sebaik-baik perempuan adalah para perempuan Anshar. Tidaklah rasa malu menghalangi mereka untuk tafaqquh (memperdalam pemahaman) dalam agama.”

(HR. Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Namun sebagai wanita yang mana dapat menjadi fitnah terbesar bagi laki-laki, maka terdapat ketentuan-ketentuan menuntut ilmu bagi kaum wanita. Adapun ketentuan-ketentuan tersebut antara lain,

Pertama. Tidak Bisa Didapat dari Mahramnya

Diperbolehkan bagi wanita untuk keluar rumah menuntut ilmu jika pihak mahram (baik ayah, suami, anak ataupun semisalnya) tidak dapat memberikan ilmu yang ia butuhkan. Dari ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Janganlah kalian menahan kaum perempuan kalian dari masjid-masjid. Namun, rumah-rumah mereka adalah lebih baik bagi mereka.”

(HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, Al Hakim, dan Al Baihaqy)

Ibnul Jauzy rahimahullah berkata, “Perempuan adalah seorang yang mukallaf seperti laki-laki. Oleh karena itu, dia wajib menuntut ilmu tentang perkara-perkara yang diwajibkan terhadapnya agar ia menunaikan ibadah tersebut di atas keyakinan. Apabila ia mempunyai ayah, saudara, suami, atau mahram yang bisa mengajarkan hal-hal yang diwajibkan dan menuntunkan cara menunaikan kewajiban-kewajiban tersebut, hal itu telah mencukupinya. Bila tidak, dia bertanya dan belajar.” [2]

Kedua. Tidak Bertabarruj

Seperti yang telah kita ketahui bahwa salah satu adab wanita keluar rumah ialah dengan tidak bertabarruj, maka demikian pula dengan wanita yang akan menuntut ilmu. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kalian menetap di rumah kalian serta janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah dahulu.”

(Al Ahzab: 33)

Dalam hadits shahih yang diriwayatkan dari Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita itu aurat, maka bila ia keluar rumah, setan terus memandanginya (untuk menghias-hiasinya dalam pandangan lelaki sehingga terjadilah fitnah).”

(HR. At Tirmidzi)

Ketiga. Tidak Bercampur Baur (Ikhtilat)

Hal tersebut berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ

“Janganlah sekali-kali seorang lelaki berduaan dengan perempuan, kecuali bila ada mahram bersama (perempuan) itu.”

(HR. Bukhari, Muslim dan An Nasa’i)

Hal tersebut juga berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ

“Apabila meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), mintalah dari belakang hijab.”

(Al Ahzab: 53)


Selain ketentuan-ketentuan menuntut ilmu bagi wanita diatas, wanita juga diharapkan menggunakan adab dalam menuntut ilmu agar ilmu yang diperoleh bermanfaat baginya. Dan adab-adab dalam menuntut ilmu ialah,

  • Ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala

Mengingat bahwa syarat diterima ibadah ialah ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka dalam menuntut ilmu pun kita harus menyertakan keikhlasan. Karena terdapat banyak ancaman bagi orang-orang yang tidak ikhlas, seperti yang diterangkan dalam hadits berikut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عُرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa mempelajari ilmu yang diharapkan dengannya wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan bagian dari dunia, ia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat.”

(HR. Ahmad, Abu Dawud, Al Hakim, dan Ibnu Abi Syaibah)

  • Berniat Menghilangkan Kebodohan pada Dirinya

Ketika menuntut ilmu, hendaknya seseorang berniat untuk menghilangkan kebodohan yang ada pada dirinya. Sebab, pada asalnya manusia berada dalam kebodohan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan Dia memberi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati agar kalian bersyukur.”

(An Nahl: 78)

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Ilmu itu tidak ada tandingannya, bagi orang yang benar niatnya.” Murid beliau bertanya, “Bagaimana niat yang benar itu?” Beliau menjawab, “Dia berniat menghilangkan kebodohan dari dirinya kemudian dari selain dirinya.” [3]

 

  • Berniat Membela Syari’at

Asy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Hendaknya penuntut ilmu berniat mencari ilmu untuk membela syariat. Sebab, membela syariat tidak mungkin dilakukan selain oleh para pembawa syariat. Ilmu itu sama dengan senjata…. Sesungguhnya, bid’ah baru akan terus muncul. Bisa jadi, akan muncul bid’ah yang belum pernah muncul pada zaman dahulu dan tidak terdapat di buku-buku. Oleh karena itu, tidak ada yang bisa membela syariat ini selain penuntut ilmu.” [4]

 

  • Mengamalkan Ilmu

Imam Ibnul A’rabi rahimahullah berkata, “Seorang yang berilmu tidak dikatakan sebagai alim robbani sampai dia menjadi orang yang -benar-benar- berilmu, mengajarkan ilmunya, dan juga mengamalkannya.” [5]

 

Dan jika melihat peran kaum wanita untuk ummat, maka wanita lah yang seharusnya sangat dekat dengan ilmu. Sehingga dengan dekatnya kaum wanita dengan ilmu, dimana dari rahim wanita lah akan terlahir generasi-generasi emas. Jika kita melihat bagaimana para shahabiyah radhiyallahu ‘anhunna begitu semangat dalam menuntut ilmu. Dan jika kita membaca kisah-kisah para salaf terdahulu, seperti para imam (sebut saja Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Al Bukhari dan lainnya) yang hanya dibesarkan oleh seorang ibu. Jika kita membaca kisah Asy Syaikh Sudais, Imam Masjidil Haram, siapakah tokoh yang sangat berjasa dibelakangnya? Dan tokoh yang paling berpengaruh dibalik kisah seorang tabi’in Ar Rabi’ah Ar Ra’yi? Jawabannya, ibu, yah, wanita. Maka sudah seharusnya mulai saat ini kita berlari mengejar ketertinggalan ilmu kita.

Wallahu a’lam bish shawab

 

 

Penulis: Ummu Hafshah

Sumber:

[1] Majalah Qonitah Tahun 1434 H 2013 M/Edisi 01. “Wanita Pun Wajib Menuntut Ilmu” oleh Al Ustadzah Ummu Muhammad

[2] Dzulqarnain.net

[3] Salafy.or.id

[4] Muslim.or.id


[1] Ahkam An-Nisa’ karya Ibnul Jauzy hal. 7

[2] Ahkam An-Nisa’ karya Ibnul Jauzy hal. 7

[3] Kitabul ‘Ilmi karya Ibnu Utsaimin hal. 19

[4] Kitabul ‘Ilmi karya Ibnu Utsaimin hal. 20

[5] Lihat Fath al-Bari, 1/197

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*