Berakhlak Mulia Dalam Bermuamalah Dengan Allah

Ummu MusaAkhlak Islami, Aqidah, ArtikelLeave a Comment

Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam bersabda: “Kebajikan itu keluhuran akhlak” (HR. Muslim)

Ibnu Rajab Al Hanbali mengenai hadits di atas: “Diantara makna al birr (kebajikan) adalah mengerjakan seluruh ketaatan, baik secara lahir maupun batin. (Makna seperti ini) tertuang dalam firman Allah Ta’ala: (artinya):

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

(QS. Al Baqarah: 177)

Dari penjelasan Ibnu Rajab rahimahullah di atas, dapat dipahami bahwa kebaikan yang paling utama yaitu menjalankan apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala perintahkan kepada kita dalam wahyu yang diturunkan-Nya melalui Nabi-Nya shallallahu’alaihi wa sallam. Barulah setelah itu kita menjalankan akhlak kepada sesama makhluk.

Adapun berakhlak baik dalam bermuamalah dengan Allah terkumpul dalam tiga perkara;

Pertama. Membenarkan Berita-Berita dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Membenarkan apa saja yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kabarkan, baik yang terkandung dalam al-qur’an maupun hadits. Yang mana artinya tidak ada keraguan atau kebimbangan sedikitpun dalam benak manusia akan kebenaran berita dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۗ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا

“Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan (nya) daripada Allah”

(An Nisa : 87)

Maka wajib hukumnya bagi seorang muslim-muslimah untuk membenarkan berita dari Allah dengan sikap mempercayainya, membelanya dan berjihad dengannya, dimana keraguan dan kebimbangan terhadap Al Qur’an dan hadits tidak boleh memasuki benaknya. Dan dalam ayat lainpun, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)”

(Al An’am : 50)

Oleh karenanya, sudah menjadi sebuah keharusan bagi seorang muslim untuk membenarkan segala apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala beritakan dalam al-qur’an dan hadits yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah haq, dan berakhlak baik terhadapnya yakni dengan menerimanya. Karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

فَذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ ۖ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ

“Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)”

(Yunus : 32)

Kedua. Menerima Hukum-Hukum Allah dengan Cara Mengamalkannya

Adapun hakikat berakhlak mulia dalam bermuamalah dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang sebenarnya ialah dengan meneriman, mengamalkan dan merealisasikannya, serta tidak menolak sedikitpun hukum-hukum-Nya. Karena jika seseorang menolak satu saja hukum Allah maka ia telah berakhlak buruk terhadap Allah.

Al Khatib Al Baghdadi rahimahullah mengatakan,

فإن العلم شجرة, و العمل ثمرة. و ليس يعدّ عالما من لم يكن بعلمه عاملا

“Sesungguhnya ilmu adalah pohon, sedangkan amal adalah buahnya. orang yang tidak mengamalkan ilmunya tidaklah dianggap sebagai orang yang berilmu”[1]

Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

إنما أخشى يوم القيامة أن يناديني ربي على رؤوس الخلائق,فيقول : يا عويمر! ما ذا عملت فيما علمت؟

“Sesungguhnya yang aku takutkan hanyalah ketika Rābb-ku memanggilku di hadapan seluruh manusia di hari kiamat kelak, kemudian Dia bertanya : ‘Wahai ‘Uwaimir (Abu Darda’), apa yang telah kamu amalkan dari ilmumu?’

Maka orang yang beriman akan menerima hukum-hukum Allah, tunduk patuh serta taat menjalankan segala apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetapkan.

Ketiga. Ridho dan Sabar pada Apa yang Telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala Takdirkan

Telah kita ketahui bahwa Allahlah yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu, dan seorang hamba sudah seharusnya ridho atas segala apa yang telah ditakdirkan-Nya, baik itu takdir baik ataupun buruk. Berakhlak mulia kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang berkenaan dengan takdir-takdir yang telah Allah tetapkan ialah dengan engkau ridho atas takdir yang Allah tetapkan bagimu dan hendaknya menyerahkannya kepada Allah serta merasa tenang akan takdir tersebut. Hendaknya pula engkau mengetahui bahwa setiap apa yang ditaksirkan bagimu itu pasti memiliki hikmah dan tujuan yang baik bagimu, yang mana sudah seharusnya engkau syukuri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al Baqarah: 216)

Oleh karenanya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memuji orang-orang yang sabar. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya lah kita kembali”

(Al-Baqarah : 156)

Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”

(Al Baqarah : 155)

Maka yang dimaksud berakhlak mulia kepada Allah adalah menerima Al Qur’an dengan membenarkannya, dan “menemui” hukum-hukumnya dengan menerima serta mengamalkannya, dan menerima takdir-takdir-Nya dengan sabar, dan ridha, inilah yang dimaksud berakhlak mulia terhadap Allah.

Wallahu Ta’ala A’lam Bish Shawab

Penulis: Ummu Hafshah

Referensi:

[1] Majalah Adz-Dzakirah Al-Islamiyah Th I/No.06/1424/2003 hal. 9-14. “Berakhlak Baik dan Pentingnya Bagi Penuntut Ilmu” oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Diterbitkan : Ma’had Al-Irsyad Surabaya. Jl. Sultan Iskandar Muda 46 Surabaya


[1] Iqtidhā-ul ‘Ilmi Al ‘Amal, hal. 18

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*