Raghbah Dan Rahbah Hanya Kepada Allah

Ummu MusaAqidah, ArtikelLeave a Comment

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

إِنَّهُمۡ كَانُواْ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبٗا وَرَهَبٗاۖ وَكَانُواْ لَنَا خَٰشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.”

(Al Anbiya’: 90)

Dalam firman tersebut, dapat kita pahami bahwa ar-raghbah bermakna harap, ar-rahbah bermakna cemas dan al-khusyu’ bermakna kekhusyukan. Yang mana tiga sifat ini merupakan akhlak para nabi dan rasul serta orang-orang yang shalih. Karena rasa harap dan cemas kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang disertai dengan kekhusyukan merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memuji orang-orang yang memiliki perangai ini dalam ayat diatas.

Raghbah

Allah berfirman,

وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرۡغَب

“Dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya engkau berharap.”

(Al Insyirah: 8)

Asy-Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa definisi raghbah adalah kecintaan untuk mencapai sesuatu yang dicintai. [1]

Dan Ibnul Qayyim rahimahullah membedakan antara raghbah dan raja’. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Perbedaan antara raghbah dan raja’ ialah bahwasanya roja’ itu kerakusan dalam pengharapan, sedangkan raghbah adalah usaha mengejar pengharapan tersebut. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa raghbah merupakan buah dari raja’. Orang yang mengharapkan sesuatu akan mengejarnya.” [2]

Rahbah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

يَا بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْ أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَ أَوْفُوْا بِعَهْدِيْ أُوْفِ بِعَهْدِكُمْ وَ إِيَّايَ فَارْهَبُوْنِ

“Wahai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu, dan hanya kepada-Ku lah kamu harus takut (tunduk)”

(Al Baqarah: 40)

Asy-Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa definisi rahbah adalah rasa takut yang membuahkan amalan. [3]

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan perbedaan antara rahbah dan khauf. Dimana kedudukan rahbah dan khauf sama halnya kedudukan raghbah dan raja’. Dimana telah kita ketahui bahwa raghbah adalah buah dari raja’, sehingga rahbah juga merupakan buah dari khauf. [4]

Dari hal tersebut, dapat kita pahami bahwa raghbah adalah rasa pengharapan yang disertai keinginan untuk mengejarnya, dan rahbah adalah rasa takut yang disertai keinginan untuk lari dari sesuatu yang ditakuti. Lalu bagaimana kaitan antara raghbah dan rahbah dengan apa yang ada disisi Allah?

Raghbah seseorang kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala terwujud dengan ketaatan dalam menjalankan seluruh perintah-Nya dan mensyukuri seluruh nikmat-Nya. Adapun rahbah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala terwujud dengan menjauhi seluruh larangan-Nya dan meminta ampun serta bertobat dari semua dosa.

Dengan adanya raghbah dan rahbah ini pada diri seorang hamba maka keduanya akan menghasilkan taufik. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, Dia akan memberikan taufik kepadanya agar mempergunakan segala daya upayanya dalam berharap dan cemas hanya kepada-Nya, karena sesungguhnya keduanya adalah unsur taufik. Sesuai dengan kadar rasa harap dan cemas dalam hati seorang hamba itulah akan dihasilkan taufik.” [5]

Adapun buah dari raghbah dan rahbah selain menjadi sebab didapatkannya taufik. Kedua perangai ini jika terkumpul dalam diri seseorang maka akan memperindah akhlak atau perilaku orang tersebut. Dimana seseorang yang memiliki perangai mulia ini akan selalu menjaga keikhlasan dalam ibadahnya dan menggantungkan harapan hanya kepada Allah sehingga dia pun sangat dekat dengan-Nya dan tenteram jiwanya. Dia berhati-hati dari segala dosa, menjaga lisan, tepercaya dalam amanat yang dibebankan kepadanya, dan jauh dari penyakit hasad, ujub, dan sombong. Pendek kata, terkumpul padanya seluruh akhlak mulia yang ada dalam Islam. Di sisi lain, setiap kali terjatuh ke dalam dosa, dia segera bertobat kepada Allah dan kembali kepada-Nya.

Jika Raghbah dan Rahbah Kepada Selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Pada penjelasan diatas, kita ketahui bahwa raghbah dan rahbah termasuk salah satu bentuk ibadah, yang mana jika memberikannya kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala merupakan bentuk kesyirikan. Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.”

(Az Zumar: 3)

Wallahu Ta’ala A’lam

Penulis: Ummu Hafshah

Referensi:

[1] Majalah Qonitah Tahun 2015/Edisi XVII. “Meraih Surga Allah dengan Kepakan Dua Sayap Ibadah Raghbah dan Rahbah” oleh Al-Ustadz Syafi’i bin Shalih al-Idrus.


 

[1] Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah

[2] Madarijus Salikin

[3] Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah

[4] Madarijus Salikin

[5] Syifa’ul ‘Alil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*