Berakhlak Mulia Terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Ummu MusaAkhlak Islami, ArtikelLeave a Comment

Sebagai seorang muslim yang beriman pada rukun iman yang enam, dimana sudah seharusnya kita mengetahui konsekuensi-konsekuensinya. Adapun salah satu konsekuensinya ialah berakhlak mulia, dan berakhlak mulia sendiri terdiri dari berakhlak mulia kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala, kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan kepada sesama makhluk. Sebagaimana yang telah kita kaji sebelumnya bahwa berakhlak mulia kepada Allah terdiri atas membenarkan berita-berita dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, menerima hukum-hukum Allah dengan cara mengamalkannya serta ridho dan sabar dengan apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala takdirkan.

Sebagai umat yang hidup jauh setelah wafatnya beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang mana akhlak-akhlak yang dapat kita terapkan bukanlah akhlak lahiriyah. Lalu bagaimanakah kita bisa berakhlak mulia kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam? Adapun berakhlak mulia kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sebagai berikut,

Pertama. Menaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Salah satu bentuk berakhlak mulia kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala ialah dengan menerima hukum-hukum Allah dengan cara mengamalkannya, dengan kata lain menaati segala yang Allah perintahkan dan menjauhi segala larangannnya. Dan konsekuensi dari hal tersebut ialah dengan menaati Rasulullahu Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, hal ini dikarenakan menaati Rasul itu juga merupakan bentuk menaati Allah. Sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala jelaskan dalam firman berikut,

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.”

(An Nisaa’ : 80)

Dan dalam ayat lain pada surat yang sama, Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

(An Nisaa’ : 59)

Jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kita untuk menaati Rasul setelah menaati-Nya. Maka hal ini sudah menjadi sebuah konsekuensi yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim.

Kedua. Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga memerintahkan kita untuk mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan menjadikan kecintaan seorang muslim terhadap Rasulullah lebih besar dibandingkan kecintaan terhadap makhluk lainnya, serta menempatkan kecintaan kepada Rasul setelah kecintaan seorang hamba kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Yang mana perintah ini Allah kabarkan melalui Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sebuah hadits dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Tidak akan sempurna keimanan seseorang sampai aku menjadi orang yang lebih ia cintai dari anaknya, orang tuanya, dan semua manusa”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Taimiyah menjelaskan, “adapun sebab kita harus lebih mencintai dan mengagungkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dibanding siapapun, adalah karena kebaikan yang paling agung yang bisa kita rasakan di dunia saat ini maupun di akhirat nanti tidak akan bisa tergapai oleh kita kecuali dengan sebab Nabi, yaitu dengan cara mengimani dan mengikutinya. Dan juga seseorang tidak terhindar dari adzab dan tidak juga bisa mendapatkan rahmat Allah kecuali dengan perantara beliau dengan cara mengimaninya, mencintainya, membelanya, dan mengikutinya. Dan beliaulah yang menjadi sebab Allah menyelamatkan kita dari adzab dunia dan akhirat. Dan beliaulah yang menjadi perantara untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat. Maka termasuk nikmat yang paling besar dan paling bermanfaat adalah nikmat keimanan. Dan nikmat tersebut tidak akan bisa kita peroleh kecuali melalui perantara beliau. Oleh karena itu, diutusnya nabi lebih bermanfaat dibanding diri kita sendiri dan harta kita. Maka siapapun yang Allah keluarkan dari kegelapan menuju cahaya yang terang-benderang, tidak ada jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah selain melalui jalan yang beliau ajarkan. Adapun diri seseorang dan keluarganya, tidak memiliki kuasa apapun untuk menyelamatkan diri (jika tanpa sebab beliau shallallahu alaihi wa sallam) di hadapan Allah Ta’ala.” [1]

Ketiga. Menghidupkan Sunnah-Sunnah Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang mana dalam segala kepribadian beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah Allah hiasi sehingga beliau menjadi tauladan yang baik bagi umatnya. Yang mana sebagai umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hendaknya kita mencontoh keseharian beliau dengan menghidupkan sunnah-sunnahnya. Selain itu, sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita berlomba-lomba mencari pahala dengan amalan yang satu ini, yakni dengan menghidupkan sunnah-sunnah Rasul. Hal ini karena dalam menghidupkan sunnah-sunnah beliau terdapat keutamaan yang agung. Sebagaimana dalam sabda beliau, dari ‘Amr bin ‘Auf bin Zaid al-Muzani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun”

(HR. Ibnu Majah)

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari berkata, “Orang muslim yang paling utama adalah orang yang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah ditinggalkan (manusia), maka bersabarlah wahai para pencinta sunnah (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), karena sesungguhnya kalian adalah orang yang paling sedikit jumlahnya (di kalangan manusia)” [2]

Keempat. Memperbanyak Shalawat kapada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Sebagai umat islam yang mengaku sebagai umat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah seharusnya kita memperbanyak shalawat untuk beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallabm. Allah saja sebagai Sang Pencipta, Sang Penguasa atas segala sesuatu senantiasa bershalawat untuk Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan para malaikat yang diciptakan oleh Allah dari cahaya yang mana selalu ta’at terhadap perintah-Nya dan tidak pernah melakukan suatu dosa saja juga memperbanyak shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka hendaknya kita yang hanya manusia biasa dan berlumuran dosa-dosa ini senantiasa memperbanyak shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikut,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

(Al Ahzab : 56)

Jika kita kaji, maka ada banyak keutamaan bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berikut, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)”

(HR. An Nasa’i, Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al Hakim)

Dalam riwayat lain, dari Ibnu Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Orang yang paling berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat adalah, yang paling banyak shalawat kepadaku”

(HR. Tirmidzi)

Kelima. Mendakwahkan Apa yang Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Bawa

Tidak ada yang dapat melanjutkan tugas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam menyebarkan dan menegakkan nilai-nilai islam di tengah-tengah masyarakat kecuali kaum muslimin. Maka hendaknya kita bersemangat dalam perkara ini, yakni menyampaikan apa yang telah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sampaikan kepada umatnya. Sebagaimana dalam sebuah hadits, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”

(HR. Bukhari)

Wallahu Ta’ala A’lam.

 

Penulis: Ummu Hafshah

Referensi:

[1] muslim.or.id/1772-keutamaan-menghidupkan-sunnah-rasul.html

[2] muslim.or.id/4078-keutamaan-membaca-shalawat.html

[3] muslim.or.id/6409-sampaikan-ilmu-dariku-walau-satu-ayat.html


[1]  Majmu’ Fatawa

[2] Dinukil oleh imam al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab “al-Jaami’ li akhlaaqir raawi” (1/168)

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*