Malu, Fitrah yang Suci

Ummu MusaAkhlak Islami, ArtikelLeave a Comment

Dalam sebuah hadits dari Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

الإيمان بضع وستون- أو بضع وسبعون – شعبة؛ أفضلها لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان

“Iman itu ada 60 lebih (atau 70 sekian) cabang. Iman yang paling utama adalah [ucapan] Laa ilaaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, sedangkan malu termasuk cabang dari iman.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Malu adalah salah satu sfat yang terpuji, akhlak mulia yang mana dengan rasa malu akan dapat menjadi tameng seseorang dalam melakukan hal-hal yang tercela. Bisa kita bayangkan, apabila rasa malu telah hilang/dicabut dari diri seseorang maka ia pasti akan cenderung melakukan hal-hal yang Allah haramkan. Na’udzubillah.

Maka tidaklah heran jika rasa malu menjadi salah satu cabang keimanan seseorang sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits diatas. Pada hakikatnya, semua manusia dilahirkan dalam keadaan fitrahnya yakni beriman. Mengingat malu ialah salah satu cabang keimanan, maka sesungguhnya manusia itu terlahir dengan rasa malunya.

Dan dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga menjelaskan betapa agungnya rasa malu, hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu’- bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

ما كان الحياء في شيء إلا زانه، ولا كان الفحش في شيء إلا شانه

“Malu akan memperindah sesuatu, sedangkan kekejian akan memperjelek sesuatu.”

(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dari hal tersebut dapat kita ketahui bahwa sesungguhnya suatu kebaikan akan berkurang atau bahkan hilang dalam diri seseorang tatkala rasa malu yang ia miliki berkurang/hilang. Jadi bisa dikatakan bahwa rasa malu ialah fitrah yang suci. Karena ia akan selalu memperindah sesuatu. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dari ‘Imron bin Hushain –radhiyallahu ‘anhu-

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ

“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Namun, yang akan kita kaji kali ini bukanlah rasa malu secara umum, melainkan rasa malu seorang wanita. Mengingat wanita ialah aurat dan fitnah terbesar bagi kaum adam, sehingga wanita lebih memiliki batasan-batasan syari’at yang lebih banyak dibanding lelaki. Hal ini sebagai bentuk penjagaan Allah terhadap wanita. Maka sudah seharusnya pula seorang wanita memiliki rasa malu yang lebih besar guna membentengi diri dari hal-hal yang tercela. Asy Syaikh ‘Abdur Razzaq al ‘Abbad mengatakan, “Sifat dasar seorang wanita adalah rasa malu, bahkan dengan sesama mereka.”

Dari perkataan beliau dapat kita pahami bahwa sudah sepatutnya seorang wanita memiliki rasa malu yang tinggi, bahkan kepada sesama wanita sekaligus. Karena jika rasa malu telah hilang pada kaum wanita, maka betapa banyak fitnah yang akan terjadi. Ada sebuah kisah indah yang dapat kita teladani dari perjalanan hidup Nabi Musa ‘Alaihissalam tatkala Allah pertemuan dengan wanita shalihah berhiaskan rasa malu (istri Nabi Musa ‘Alaihissalam).

Kisah Nabi Musa ‘Alaihissalam di negeri Madyan

Dalam pelariannya dari negeri kezhaliman,Musa Kalimurrahman ‘Alaihissalam tiba di negeri Madyan. Dia menyeru Rabbnya, memohon agar diturunkan belas kasih dan kebaikan baginya. Rabbnya pun mengabulkannya. Di antara kebaikan itu, Kalimurrahman ‘Alaihissalam mendapatkan seorang wanita mulia, putri dari lelaki shalih dari penduduk Madyan. [1]

Dalam surat al-Qashash, Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan secercah kisah yang menunjukkan tingginya ‘iffah dan keshalihan Musa beserta calon istrinya.

وَلَمَّا وَرَدَ مَآءَ مَدۡيَنَ وَجَدَ عَلَيۡهِ أُمَّةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ يَسۡقُونَ وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ ٱمۡرَأَتَيۡنِ تَذُودَانِۖ قَالَ مَا خَطۡبُكُمَاۖ قَالَتَا لَا نَسۡقِي حَتَّىٰ يُصۡدِرَ ٱلرِّعَآءُۖ وَأَبُونَا شَيۡخٞ كَبِيرٞ ٢٣

“Tatkala Musa sampai di sebuah sumber air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekelompok orang yang sedang memberi minum ternak mereka. Dan dia mendapati di belakang mereka dua wanita yang sedang berusaha menghambat ternak mereka (supaya tidak maju ke mata air). Musa bertanya, Apa maksud kalian berdua (dengan perbuatan tersebut)? Mereka menjawab, Kami tidak memberi minum ternak kami sampai para penggembala itu memulangkan ternak mereka, sementara ayah kami adalah orang tua yang sudah lanjut usia.

(al-Qashash: 23)

Kedua wanita itu berdiri di tempat yang jauh dari rombongan penggembala. Keduanya di belakang mereka, di arah datangnya Nabiyullah Musa ‘Alaihissalam. Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah , di dalam Tafsirnya, menjelaskan, “Kedua wanita tersebut berupaya menahan ternak mereka dari mata air, agar keduanya tidak diganggu.”

asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan “Inilah mereka, dua wanita, yang rasa malu mereka membuat mereka enggan berdesak-desakan dengan penggembala lain di tepi sumber air tersebut. Mereka memilih menunggu para penggembala itu selesai dan pergi dari mata air, baru keduanya melepaskan ternak mereka untuk minum.”

Kedua wanita tadi tidak memulai perbincangan dengan Nabiyullah Musa ‘Alaihissalam, juga tidak memperpanjang pembicaraan dengan beliau. Nabi Musa ‘Alaihissalam pun hanya mengajukan pertanyaan yang ringkas, مَا خَطْبُكُمَا  (Apa maksud kalian berdua [dengan perbuatan tersebut]?). Kalimat ini mengandung banyak pertanyaan, seperti mengapa mereka menahan ternak mereka, mengapa mereka tidak memberi minum kambing-kambing itu, apakah tidak ada pria yang mengurusi mereka, dan sebagainya. Mereka pun menjawabnya dengan ringkas, dengan ungkapan yang padat dan menyeluruh sehingga tidak menimbulkan pertanyaan lain. Mereka mengatakan, “Kami tidak memberi minum ternak kami sampai para penggembala itu memulangkan ternak mereka, sementara ayah kami adalah orang tua yang sudah lanjut usia.”

Mendengar penjelasan mereka, Nabi Musa ‘Alaihissalam pun menjadi iba. Namun, beliau adalah sosok yang mulia, yang menjaga diri dari fitnah dan kemurkaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala . Beliau tidak memperpanjang interaksi dengan keduanya. Tanpa bertanya dan banyak bicara, beliau turun memberikan pertolongan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰٓ إِلَى ٱلظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَآ أَنزَلۡتَ إِلَيَّ مِنۡ خَيۡرٖ فَقِيرٞ ٢٤

Maka Musa memberi minum ternak-ternak mereka untuk (menolong) keduanya. Kemudian, dia kembali ke tempat yang teduh, lalu berdoa, Wahai Rabbku, sesungguhnya aku, terhadap kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku, sangatlah membutuhkannya.

(al-Qashash: 24)

Diriwayatkan bahwa Nabi Musa ‘Alaihissalam pergi menuju sebuah sumur. Beliau mengangkat batu yang menutupi mata air, padahal batu tersebut tidak bisa diangkat kecuali oleh banyak orang.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman mengisahkan kedatangan salah satu dari dua wanita tadi kepada Musa ‘Alaihissalam,

فَجَآءَتۡهُ إِحۡدَىٰهُمَا تَمۡشِي عَلَى ٱسۡتِحۡيَآءٖ قَالَتۡ إِنَّ أَبِي يَدۡعُوكَ لِيَجۡزِيَكَ أَجۡرَ مَا سَقَيۡتَ لَنَاۚ فَلَمَّا جَآءَهُۥ وَقَصَّ عَلَيۡهِ ٱلۡقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفۡۖ نَجَوۡتَ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ٢٥

Kemudian datanglah salah satu dari kedua wanita tadi kepada Musa, yang dia berjalan dengan malu-malu. Dia berkata, Sesungguhnya ayahku memanggilmu untuk membalas kebaikanmu memberi minum ternak kami. Tatkala Musa mendatangi ayahnya dan menceritakan kisah dirinya, laki-laki itu berkata, Janganlah engkau takut, karena engkau telah selamat dari orang-orang yang zhalim itu.'”

(al-Qashash: 25)

Ibnu Ishaq rahimahullah menjelaskan bahwa keduanya bersegera kembali kepada ayah mereka, padahal biasanya mereka butuh waktu lama untuk memberi minum ternak mereka. Mereka mengabarkan kepada sang ayah tentang pria yang membantu mereka. Mendengar penjelasan mereka, sang ayah pun menyuruh salah seorang putrinya memanggil Musa ‘Alaihissalam untuk menemuinya.

‘Amr bin Maimun rahimahullah mengatakan, “Wanita ini bukanlah wanita yang berani menggoda pria, bukan pula wanita yang sering keluar dari rumah lagi keras kepala.”

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Dia berjalan dengan cara berjalannya wanita terhormat.” Dikatakan oleh Allah bahwa dia berjalan dengan malu-malu. Dia berjalan tanpa berlenggak-lenggok, tanpa rasa sombong, tidak banyak menoleh, tidak berjalan dengan cara yang dibuat-buat atau mencari perhatian. Akan tetapi, dia berjalan dengan rasa malu yang menghiasi diri. Kata Ibnu Katsir pula, “Diriwayatkan dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah wanita tersebut datang menemui Musa seraya menutupi wajahnya dengan lengan jubahnya.”

Diriwayatkan bahwa Musa bangkit dari tempat beliau dan mengikuti wanita tersebut. Antara tempat Musa dan kediaman ayah si wanita berjarak sekitar tiga mil. Angin bertiup menerpa jubah si wanita sehingga tampaklah bentuk badannya. Musa segera berpaling menghindar dari dosa menatapnya. Beliau ‘Alaihissalam berkata, “Kembalilah ke belakangku dan beri tahukanlah jalan dengan suaramu.”

Ada riwayat lain yang menceritakan bahwa sejak awal, Musa memilih berjalan terlebih dahulu dan berkata, “Berjalanlah di belakangku. Aku ini laki-laki Ibrani, tidak boleh menatap bagian belakang perempuan. Tunjukkan kepadaku jalan, ke kanan atau ke kiri.”

Setibanya Musa di kediaman sang ayah, kepadanya beliau mengisahkan perjalanan hidup beliau di Mesir. Laki-laki shalih itu menghibur beliau dengan mengatakan bahwa Musa tidak perlu merasa takut lagi. Madyan berada di luar kekuasaan Fir’aun sehingga kezhalimannya tidak akan menyentuh Musa ‘Alaihissalam di Madyan.

Sang tuan rumah pun menghidangkan jamuan kepada Musa ‘Alaihissalam. Namun, Musa ‘Alaihissalam menolaknya dengan beralasan bahwa beliau tidak boleh menjual agama meski dengan emas sepenuh bumi. Maksudnya, adalah kewajiban Musa ‘Alaihissalam menolong kedua putrinya, dan beliau tidak mengharapkan imbalan apa pun. Mendengar jawaban ini, laki-laki shalih itu pun menjawab bahwa hidangan itu bukan upah atas bantuannya, melainkan jamuan untuk memuliakan tamu, yang sudah menjadi adat di Madyan. Akhirnya, Musa ‘Alaihissalam bersedia makan.

Salah seorang putri laki-laki shalih itu berkata kepada sang ayah,

قَالَتۡ إِحۡدَىٰهُمَا يَٰٓأَبَتِ ٱسۡتَ‍ٔۡجِرۡهُۖ إِنَّ خَيۡرَ مَنِ ٱسۡتَ‍ٔۡجَرۡتَ ٱلۡقَوِيُّ ٱلۡأَمِينُ ٢٦

Wahai Ayahanda, jadikanlah dia orang yang bekerja kepada kita, karena sesungguhnya orang yang paling baik yang bisa Ayah pekerjakan adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”

(al-Qashash: 26)

Diriwayatkan bahwa yang mengucapkannya adalah Shafuriyya, putri yang lebih muda, yang menjemput Musa ‘Alaihissalam. Dia ingin ayahnya mempekerjakan Musa ‘Alaihissalam untuk menggembalakan ternak mereka karena Musa adalah orang kuat lagi tepercaya. Orang shalih itu bertanya, “Apa yang kauketahui tentang hal ini?” Putrinya menjawab, “Dia sendirian mengangkat batu yang baru bisa diangkat oleh sepuluh orang. Ketika saya datang bersamanya, saya berjalan di depannya. Namun, dia berkata kepada saya, ‘Berjalanlah di belakangku. Kalau aku menjauh dari jalan yang seharusnya, lemparkanlah kerikil kepadaku agar aku mengetahui jalan yang benar dan bisa mengambil arah dengannya’.”

Sang ayah telah melihat keshalihan Musa ‘Alaihissalam secara langsung dan dari penuturan putrinya. Dia berkata,

قَالَ إِنِّيٓ أُرِيدُ أَنۡ أُنكِحَكَ إِحۡدَى ٱبۡنَتَيَّ هَٰتَيۡنِ عَلَىٰٓ أَن تَأۡجُرَنِي ثَمَٰنِيَ حِجَجٖۖ فَإِنۡ أَتۡمَمۡتَ عَشۡرٗا فَمِنۡ عِندِكَۖ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أَشُقَّ عَلَيۡكَۚ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ٢٧

Sesungguhnya aku ingin menikahkanmu dengan salah satu dari kedua putriku ini, atas dasar engkau bersedia bekerja kepadaku selama delapan tahun. Apabila engkau menyempurnakan menjadi sepuluh tahun, itu adalah kebaikan darimu. Aku tidak ingin memberatimu. Dan engkau, insya Allah, akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik.”

(al-Qashash: 27)

Dia ingin Musa ‘Alaihissalam menikahi salah satu putrinya dengan mahar bahwa Musa ‘Alaihissalam bekerja selama delapan tahun menggembala ternak mereka. Nabiyullah Musa ‘Alaihissalam menerima tawaran laki-laki shalih tersebut. Beliau menikahi salah satu putrinya, yaitu putri yang lebih muda (menurut satu riwayat) yang telah menjemput beliau dan memberikan rekomendasi kepada sang ayah. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Musa ‘Alaihissalam tinggal di Madyan bersama keluarga barunya dan memilih waktu yang paling baik dan paling sempurna, yaitu sepuluh tahun.

Setelah menyempurnakan waktu penunaian janji beliau kepada sang mertua, Musa ‘Alaihissalam membawa keluarga kecilnya tersebut menempuh perjalanan penuh sejarah dan liku, kembali ke Mesir, menjemput tugas mulia sebagai utusan Allah Ssubhanahu Wa Ta’ala kepada Bani Israil.

 

Dari kisah diatas, dapat kita lihat betapa terhormat dan mahalnya seorang wanita yang berhiaskan rasa malu. Maa syaa Allah, dan sudah seharusnya kita sebagai seorang wanita untuk bersungguh-sungguh dalam menjaga rasa malu kita.

 

Wallahu A’lam.

 

Penulis: Ummu Hafshah

Referensi:

[1] Majalah Qonitah/Tahun 2014/Edisi 14/Wanita Shalihah di Tepi Mata Air Madyan oleh Al-Ustadzah Ummu Maryam Lathifah.

[2] Rumaysho.com


[1] al Jami’ fii Ahkamil Qur’an

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*