Fiqhul Khilaf: Bagaimana Menyikapi Perbedaan Pendapat?

Ummu MusaAkhlak Islami, Artikel, UncategorizedLeave a Comment

Bismillah..

Dalam menjalankan agama islam yang kita cintai ini, sering kali kita menjumpai perbedaan dan perselisihan pendapat di tubuh umat islam. Banyak kita jumpai berbagai madzhab, manhaj, aliran dan metode berfikir baik menyangkut masalah aqidah maupun ibadah atau hal lainnya. Perbedaan dan perselisihan pendapat tidak jarang menimbulkan ketegangan, konflik dan perselisihan antara sesama muslim. Bahkan tidak jarang pula membuat mayoritas kaum muslimin kebingungan bagaimana menentukan sikap, bahkan futur. Na’udzubillah..

 

Pertanyaan yang sering kali muncul di benak sebagian umat islam ialah “Bukankah al-Qur’an itu satu? Bukankah Rabb dan Rasul kita satu? Lantas mengapa ada begitu banyak pendapat?”

Orang arab berkata, yang artinya: “Jika sebab telah diketahui maka akan hilang rasa heran”

Adapun ketidaktahuan dalam menyikapi perbedaan pendapat sendiri akan mengakibatkan timbulnya su’udzon (prasangka buruk), mudah tersinggung, mudah menyalahkan bahkan kaum muslimin akan terpecah belah. Allahul musta’an..

Maka dari sinilah kita mengetahui betapa pentingnya mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi perbedaan pendapat. Adapun manfaat-manfaat mempelajari fiqhul khilaf sendiri antara lain:

  1. Dengan mempelajari fiqhul khilaf maka kita akan lebih bisa bersikap dengan hikmah dalam menyikapi perbedaan pendapat. Karena tanpa mempelajari fiqhul khilaf niscaya dakwah akan cenderung kaku.
  2. Akan tepat dalam menentukan sikap, tidak akan bingung dalam menghadapi persoalan.
  3. Menjadi ummatan wasathah (umat pertengahan), tidak ekstrem ataupun lembek dalam berdakwah.

Dalam menyikapi perbedaan itu dapat dilakukan sebaik mungkin dengan mengetahui sebab-sebab adanya perbedaan pendapat tersebut. Dan perkara-perkara yang menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama kaum muslimin antara lain[1]:

1) Dalil belum sampai kepadanya

Tidak semua ulama mendengar semua dalil, termasuk juga ulama dari kalangan shahabat, ada dari mereka yang belum sampai dalil kepadanya. Dan ini merupakan hal yang wajar. Karena tidak semua shahabat selalu mendampingi Rasulullah dalam kesehariannya. Sehingga wajar kalau ada diantara mereka yang belum tahu suatu dalil yang mungkin telah diketahui oleh shahabat lainnya. Diantaranya yang menunjukkan hal tersebut ialah apa yang dahulu pernah terjadi di zaman shahabat.

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu-, dia berkata: “Suatu ketika Umar bin Khattab pergi ke negeri Syam, hingga tatkala ia sampai di depan pintu Syam, ia ditemui oleh para pemimpin pasukan yakni Abu Ubaidah bin Jarrah dan kawan-kawannya, mereka mengabarkan kepada Umar bahwa penyakit Thaun (penyakit yang sangat mematikan ketika itu) sedang menyebar di negeri Syam. Maka Umar berkata: “Panggilkan para shahabat senior dari kalangan Muhajirin!!”, maka Umar meminta pendapat dari mereka, kemudian terjadi perselisihan pendapat diantara mereka, sebagian berkata: “Menurut kami anda tetap harus masuk ke Syam” dan sebagian lainnya berkata: “Menurut kami anda tidak usah mendatangi negeri yang sedang tersebar penyakit”. Maka Umar mempersilahkan mereka untuk meninggalkan majelis, lalu ia meminta untuk dipanggilkan para shahabat Anshor untuk dimintai dari mereka pendapat, maka mereka berselisih sebagaimana para shahabat Muhajirin. Akhirnya Umar memilih untuk membatalkan niatnya masuk ke negeri Syam. Maka berkatalah Abu Ubaidah bin Jarrah: “Apakah anda akan lari dari qadar Allah?“, Umar menjawab: “Andai saja yang berkata bukan kamu wahai Abu Ubaidah! Ya, kita lari dari qadar Allah menuju ke qadar Allah yang lain”

Disaat para shahabat berselisih maka datanglah Abdurrahman bin Auf dan berkata: “Aku memiliki ilmu dalam hal ini, aku pernah mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فِى أَرْضٍ فَلاَ تَقْدُمُوْا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ فِيْهَا فَلاَ تَخْرُجُوْا فِرَارًا مِنْهُ

“Kalau kalian mendengar kabar bahwa Thaun sedang menyebar di suatu tempat maka janganlah kalian mendatangi tempat itu, dan bila Thaun menyebar di suatu tempat yang kalian berada padanya maka jangan kalian pergi darinya”

(HR. Bukhari no. 5729)

Kisah diatas sangat jelas menunjukkan bahwa para shahabat yang sekian banyaknya tidak mendengar hadits terkait Thaun kecuali setelah mendengar dari Abdurrahman bin Auf -radhiyallahu ‘anhu-.

 

2) Dalil telah sampai tapi sebagian dari mereka lupa dalil tersebut

Ini merupakan sebab yang amat wajar, siapa pula diantara kita yang tidak pernah lupa. Pasti kita semua pernah lupa, demikian juga dengan para ulama yang mana mereka terkadang lupa terhadap suatu dalil, meski para shahabat sekalipun.

Hal ini sebagaimana yang terkandung dalam kisah Umar bin Khattab dan Ammar bin Yasir -radhiyallahu ‘anhumaa- yakni ketika mereka berdua berada dalam perjalanan kemudian mereka ditimpa hadats besar dan tidak mendapati air untuk mandi dan berwudhu. Maka masing-masing diantara mereka berijtihad, yang mana Umar tidak mengerjakan shalat karena berhadats besar adapun Ammar bergulung-gulung di pasir karena mengira pasir bisa menjadi pengganti air. Setelah sampai kepada Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- mereka menceritakan kisah mereka kepada Nabi dan Nabi menjelaskan kepada mereka: “Bahwa cukup dengan tayammum untuk menghilangkan hadats, tidak perlu bergulung-gulung di pasir”.

Di masa kekhalifahan Umar, Ammar memberikan fatwa kepada manusia tentang bolehnya bertayammum bagi orang yang berhadats besar dan tidak memperoleh air. Namun rupanya Umar bin Khattab lupa akan kejadian di masa lalu sehingga ia mengingkari fatwa Ammar tersebut. Dan sebagian shahabat ada pula yang mengingkari fatwa Ammar dikarenakan ia mengikuti pendapat Umar sehingga muncullah perbedaan pendapat. [2]

Inilah contoh perbedaan pendapat yang disebabkan oleh lupa. Namun tidak diragukan bahwa pendapat yang benar adalah bahwasanya tayammum bisa menjadi pengganti mandi besar sebagaimana yang difatwakan oleh Ammar bin Yasir -radhiyallahu ‘anhu-.

 

3) Perbedaan tingkat pemahaman para ulama terhadap dalil

Allah -‘Azza wa Jalla- melebihkan tingkat pemahaman seorang hamba diatas pemahaman hamba yang lain, atau dengan kata lain Allah -Azza wa Jalla- memberikan pemahaman yang bertingkat-tingkat pada setiap hamba- Nya. Ada seorang yang ketika membaca ayat bisa memetik faidah yang banyak dan ada seorang yang tidak diberikan keadaan yang demikian. Sebagai contoh adalah sebuah kisah yang menceritakan Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- pernah mengumpulkan para shahabat dari kalangan mantan pasukan Perang Badr, untuk bertanya kepada mereka tentang firman Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- dalam Surat An Nashr:

(3) إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Menerima taubat.”

(an-Nashr : 1-3)

Maka sebagian shahabat menjawab, maksud surat tersebut adalah kita diperintah untuk memuji Allah dan beristigfar kepada-Nya bila kita ingin memperoleh pertolongan dan meraih kemenangan. Sementara sebagian shahabat lain diam tidak ada jawaban, kemudian Umar bertanya kepada Ibnu Abbas: “Apa pendapatmu tentang surat ini wahai ibnu Abbas?” Dia menjawab: “Surat ini mengisyaratkan akan dekatnya ajal Rasulullah”

(HR. Bukhari no. 4970)

Dan benarlah pemahaman Ibnu Abbas, tidak lama setelah turunnya surat tersebut Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- wafat. Demikianlah Allah melebihkan pemahaman sebagian orang diatas sebagian orang lainnya.

Contoh kedua; pada kisah seorang wanita yang melahirkan saat usia pernikahannya baru menginjak 6 bulan. Maka berbagai tuduhan zina pun terlontarkan. Mengetahui hal ini, Utsman bin Affan yang ketika itu menjabar sebagai khalifah akan menegakkan Hadh atas wanita tersebut maka Ali bin Abi Thalib menjelaskan bahwa al-Qur’an tidak mengingkari hal tersebut. Karena dalam surat al-Ahqaf, Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- berfirman,

 …وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, …”

(Qs. Al Ahqaf: 15)

Dalam ayat tersebut jelas bahwa masa kehamilan dan menyusui adalah 30 bulan, sedangkan dalam surat al-Baqarah, Allah -‘Azza wa Jalla- berfirman,

 … وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. …”

(al-Baqarah : 233)

Dari kedua ayat diatas, Ali bin Abi Thalib menjelaskan bahwa masa kehamilan dan menyusui minimal itu 30 bulan sebagaimana yang terkandung dalam al-Ahqaf ayat 15 dan masa menyusui maksimal ialah 2 tahun penuh atau 24 bulan sebagaimana yang terkandung dalam al-Baqarah ayat 233. Sehingga masa minimal seorang wanita untuk hamil sampai melahirkan ialah 6 bulan. Jadi apa yang terjadi pada wanita tersebut hal yang wajar menurut al-Qur’an.

Hal ini membuktikan bahwa manusia tatkala mencari atau memahami dalil itu cenderung menitik-beratkan pada lafadz (tekstual). Yang seharusnya ialah dengan mencoba memahaminya dengan menitik-beratkan pada maknanya (kontekstual).

Contoh ketiga; Dalil mengenai pemendian jenazah dengan daun bidara. Yang mana dalil tersebut secara kontekstual memiliki makna memandikan jenazah menggunakan zat-zat yang dapat membersihkan jenazah dengan sebersih-bersihnya. Dimana pada saat itu, zat yang dapat membersihkan sesuatu dengan sebersih-bersihnya ialah daun bidara. Adapun sebagian lainnya memahami secara tekstual dimana memandikan jenazah agar bersih baiknya menggunakan bidara.

4) Ketidaktahuan sebagian mereka bahwa hukum telah dihapus

Diantara dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah, ada dalil yang menghapus hukum yang lama, dan inilah yang disebut dengan Nasikh. Sedangkan dalil yang terhapus hukumnya dikarenakan terdapat dalil yang baru disebut Mansukh. Ketika ada dua dalil yang nampaknya bertentangan maka sebagian ulama ada yang mampu mencapai titik temunya, sehingga titik temu inilah yang mereka amalkan. Dan sebagian ulama lainnya tidak bisa mencapai titik temu, sehingga mereka menetapkan salah satu dalil sebagai nasikh dan yang lain mansukh. Namun terkadang terjadi perselisihan dalam menentukan mana dalil yang nasikh dan mana yang mansukh dikarenakan tidak adanya kejelasan tentang tanggal keluarnya hadits.

Contoh; hukum berziarah kubur. Dimana pada awal munculnya islam, Allah mengharamkan berziarah kubur dikarenakan kondisi kaum muslimin saat itu masih membawa sisa-sisa ajaran jahiliiyah. Dan ketika islam mulai tegak dengan meninggalkan ajaran-ajaran jahiliyah yang bertentangan dengan islam maka muncullah dalil yang menghapus hukum haramnya berziarah kubur. Sehingga dalil yang membolehkan berziarah kubur bersifat nasikh dan dalil yang mengharamkan berziarah kubur bersifat mansukh.

Contoh lainnya; ketika ada shahabat yang bersin tatkala sedang shalat lalu bertahmid. Dan ada seorang yang menjawab tahmid orang yang bersin tersebut. Sebagaimana yang dikisahkan dalam hadits berikut, dari Mu’âwiyah bin al-Hakam as-Sulami Radhiyallahu anhu mengatakan :

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَطَسَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ ، فَقُلْتُ : يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَرَمَانِي الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ ، قَالَ : فَقُلْتُ : وَاثَكْلَ أُمَّاهُ مَا لَكُمْ تَنْظُرُونَ إليَّ فِي الصَّلاةِ فَضَرَبُوا بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ ، فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُصَمِّتُونَنِي لَكِنِّي سَكَتُّ ، فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَانِي فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ ، مَا سَبَّنِي ، وَلا نَهَرَنِي ، وَلا شَتَمَنِي ، قَالَ : إِنَّ هَذِهِ الصَّلاةَ لا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلامِ النَّاسِ ، إِنَّمَا هُوَ التَّكْبِيرُ وَالتَّسْبِيحُ ، وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ وَالتَّحْمِيْدِ

Saya shalat bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ada seseorang yang bersin, maka saya mengatakan ‘Yarhamukallâh’. Orang-orangpun memandang ke saya. Saya mengatakan, ‘Aduh, mengapa kalian memandang ke saya ?’ Merekapun memukulkan tangan mereka ke paha, maka saya paham bahwa mereka ingin saya diam, dan sayapun diam. Setelah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil saya. Sungguh, –ayah ibu saya adalah tebusan beliau- saya tidak pernah melihat guru yang lebih baik dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengajar. Beliau tidak mengumpat, tidak memaki atau tidak membentak. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Dalam shalat ini tidak boleh ada perbincangan manusia. Shalat adalah takbîr, tasbîh, membaca al-Qur`ân dan tahmîd’.”

[HR. Muslim, no. 537]

Dahulu sebelum turunnya dalil yang mengharamkan berbicara dalam shalat, terdapat pembolehan berbicara tatkala shalat namun hanya sekedarnya. Namun tatkala turun dalil pengharaman tersebut maka dalil terkait bolehnya berbiacara ketika shalat telah dihapus atau bersifat mansukh.

5) Perbedaan dalam menilai derajat sebuah hadits

Sebagian ulama memiliki penilaian tersendiri dalam menentukan derajat hadits. Ada ulama yang menshahihkannya, menilai derajatnya hasan atau bahkan ada yang menilai derajatnya dhaif. Contohnya terkait syariat aqiqah. Dimana sebagian ulama membolehkan mengaqiqahi diri sendiri meskipun telah melewati usia 7 hari, hal ini berdasarkan sebuah hadits bahwasanya Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- mengaqiqahi diri beliau sendiri karena menilai derajat hadits tersebut shahih atau hasan sehingga bisa dijadikan hujjah. Namun ada sebagian ulama lainnya yang menilai hadits tersebut dhaif maka mereka berpendapat bahwa tidak ada aqiqah setelah usia 7 hari kelahiran.

MENYIKAPI KHILAF

Untuk bisa menyikapi khilaf dengan benar, seseorang harus mengetahui terlebih dahulu apa saja macam-macam khilaf. Karena khilaf memiliki beberapa jenis, yang mana tiap jenisnya memiliki sikap tersendiri. Adapun macam-macam khilaf[2] antara lain:

1. Khilaf Faarig

Yakni khilaf yang kosong dari faidah, tidak ada dampaknya dalam aqidah ataupun ibadah. Maksudnya seseorang yang memilih pendapat mana saja tidak akan memperngaruhi aqidah, manhaj dan ibadahnya. Dan kita ditekankan untuk tidak perlu menyibukkan dengan perbedaan pendapat jenis ini. Contoh: khilaf terkait jenis anjing apa yang terdapat dalam kisah Ashhabul Kahfi ataupun letak guanya, tongkat Nabi Musa -‘alaihissalam- terbuat dari apa.

2. Khilaf at Tanawwu’

Yakni khilaf yang bersifat variatif saja, pendapat yang satu dengan yang lainnya tidak bertentangan, semua benar atau bahkan saling mendukung. Contoh: khilaf terkait do’a istiftah, bacaan sujud, bacaan shalwat ketika tahiyat awal/akhir.

3. Khilaf Tadhooodh

Yakni khilaf yang bersifat kontradiktif, dimana pendapat yang satu bersebrangan dengan pendapat yang lain dan tidak bisa dipadukan. Dikarenakan terdapat perbedaan yang sangat tajam, sehingga khilaf ini dikatakan sebagai inti dari khilaf yang sebenarnya. Khilaf Tadhooodh terbagi dua:

A. Khilaf dalam masalah yang ada dalil qath’i (tegas, gamblang dan jelas)

Maka dalam hal ini, kaum muslimin wajib kembali pada dalil yang gamblang tersebut, tidak boleh menyelisihinya, apabila ada yang menyelisihinya maka harus diingkari dan tidak ada toleransi baginya. Sebagaimana dalam firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

(an Nisa’ : 59)

Dalam ayat tersebut, Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- secara tegas memerintahkan kaum muslimin apabila terjadi perselisihan pendapat dalam suatu perkara maka hendaknya dikembalikan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, bukan ditoleransi.

B. Khilaf dalam masalah yang tidak ada dalil secara langsung, atau ada dalilnya tapi dalil tersebut masih samar atau multitafsir (masalah ijtihadiyah)

Maka dalam hal ini para ulama meujtahidin segenap upayanya untuk mengambil kesimpulan hukum dari dalil-dalil. Setelah itu berulah mereka mentoleransi pendapat yang menyelisihi mereka. Adapun orang awam, ia bertanya kepada ahli ilmu tentang hukum permasalahan yang diperselisihkan, dan mengikuti pendapat ulama (yang paling shalih/’alim) yang dia yakini. Kemudian setelah itu apabila mendapati saudaranya mengambil sikap yang berbeda dengannya, ia bertoleransi. Dan inilah khilaf yang boleh ditoleransi. Hal ini sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi,

إذا حكم الحاكم فاجتهد فأصاب فله أجران، وإذا حكم فاجتهد ثم أخطأ فله أجر

“Apabila seorang hakim membuat keputusan apabila dia berijtihad dan benar maka dia mendapat dua pahala apabila salah maka ia mendapat satu pahala.”

(HR.Bukhari Muslim dan Ahmad)

Hadits diatas menjelaskan bahwa bila para ulama berijtihad untuk menggali hukum dalam masalah yang pelik dan membutuhkan keseriusan kemudian dia salah dalam berijtihad maka ia memperoleh satu pahala, dan ditetapkannya satu pahala ini menunjukkan bahwa perbedaan pendapat dalam masalah yang semacam ini tidaklah tercela secara syariat.

Contohnya ialah tatkala para shahbat hendak menuju ke Bani Qurairah, Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- bersabda: “Janganlah kalian shalat (asar) kecuali telah sampai di Bani Qurairah”. Sehingga ketika telah memasuki waktu asar dan hampir menjelang akhir waktu shalat, para shahabat masih dalam perjalanan. Maka terjadilah perselisihan pendapat diantara shahabat. Sebagian berpendapat tetap shalat dalam perjalanan dikarenakan waktu shalat hampir habis sedangkan sebagian lainnya berpendapat tidak shalat dikarenakan menganggap hadits tersebut melarang shalat sebelum sampai di Bani Qurairah. Namun makna sebenarnya dari hadits tersebut ialah Rasulullah memerintahkan para shahabat agar segera bergegas menuju Bani Qurairah sehingga ketika waktu asar telah masuk mereka tiba di Bani Qurairah.

Dan tatkala hal ini sampai kepada Rasulullah maka Rasulullah tidak mencela salah satu diantara kedua pendapat dikalangan para shahabat. Maa syaa Allah..

Hal ini dapat kita simpulkan bahwa suatu hadits itu dapat dimaknai secara kontekstual, sehingga jangan terburu-buru menghukumi pendapat lain yang bertentangan dengan pendapat kita. Wallahu a’lam..


Penulis : Ummu Musa

Referensi:

[1] Kajian “Fiqhul Khilaf” oleh al Ustadz Hafidz Al Mustafa, Lc -hafizhahullahu- di Masjid al Amin pada Ahad, 27 Dhulqa’dah 1437/20 Agustus 2017.

[2] almanhaj.com


[1] Rof’ul Malam karya Ibnu Taimiyyah: 9-35 dan al-Khilaf Bainal Ulama Asbabuhu wa Mauqifuna Minhu karya Syaikh Ibnul Utsaimin: 2-11

[2] Kitab ar Risalah karya Imam Syafi’i: 560

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*