Faktor Penunjang Utama dalam Mencetak Generasi Rabbani

Ummu MusaArtikelLeave a Comment

Bismillah..

Sesungguhnya telah turun firman Allah -Subhanahu Wa Ta’ala-,

وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”

(al Imron : 79)

Imam ahli tafsir, Ibnu ‘Abbas berkata: “Jadilah kalian generasi Rabbani yaitu orang-orang bijak dan ahli dalam memahami agama. Istilah Rabbani juga dikatakan bagi orang-orang yang mentarbiyah manusia dengan  ilmu-ilmu yang dasar sebelum ilmu-ilmu yang tinggi.”[1]

Syaikh Abu Bakr al-Jaza’ir berkomentar mengenai ayat tersebut, beliau berkata: “Kalimat Rabbaniyyin adalah jama’ dari kata Rabbani yakni nisbah kepada Rabb disebabkan banyaknya ibadah mereka kepada-Nya dan kedalaman ilmu mereka. Atau dinisbahkan kepada kalimat Rabbaan (mengurus) yang maknanya mengurus manusia sehingga bisa memperbaiki urusan-urusan mereka.”[2]

Imam Ibnu Jarir at-Thabari juga menuturkan: “(Orang-orang Rabbani) mereka adalah tulang punggungnya manusia dalam masalah fiqih dan ilmu, serta dalam urusan agama dan dunia.”[3]

Adapun ciri-ciri Rabbaniyyin adalah:

  • Senantiasa tegar diatas iman dan taqwa, serta berdiri di atas asas tauhid yang kokoh dan tidak terjerumus kepada kesyirikan
  • Senantiasa istiqamah diatas sunnah yang shahihah, dengan menjadikan Rasulullah kemudia para Salafush Shalih sebagai imam dan tauladan yang mereka ikuti
  • Senantiasa menjunjung tinggi ilmu dan amal, serta semangat diatas ketaatan dan menjauhkan diri dari berbagai kemaksiatan
  • Senantiasa semangat menebarkan ajaran Islam dan menasihati serta mendakwahi kaum muslimin, juga menegakkan amar ma’ruf nahi munkar diatas ilmu dan dengan hikmah
  • Senantiasa menjunjung tinggi kemuliaan akhlak dan keluhuran adab, dengan membersihkan jiwanya dari akhlak/adab yang buruk, sehingga menjadi qurrata a’yun (penyejuk mata), dan pelipur lara bagi yang memandangnya. Maa syaa Allah..

Dan sebagaimana orang tua yang benar-benar faham bahwasanya anak ialah titipan Allah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya, maka sudah barang tentu kita akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh guna mendidik anak dengan sebaik mungkin agar ia menjadi salah seorang dari Rabbaniyyun. Berbicara mengenai pendidikan anak, ada begitu banyak konteks yang perlu diperhatikan oleh orang tua. Adapun yang akan kita bahas kali ini ialah faktor-faktor penunjang utama dalam mencetak generasi Rabbani yang terdiri atas 5 faktor, antara lain:

1)    Al Walidani Ash Shalihani (Kedua Orang Tua yang Shalih)

Al Walidanish shalihani tersusun atas dua kalimat (kata) yang bersifat mutsanna (dua/ganda). Hal ini menunjukkan bahwa kedua orang tua yang shalih, bukan salah satunya, bukan ayah atau ibu saja, melainkan kedua-duanya. Mendidik anak haruslah dibangun atas kerjasama yang baik antara ayah dan ibu.

Lalu mengapa keshalihan kedua orang tua menjadi faktor utama dalam mencetak generasi Rabbani?

  1. Keshalihan kedua orang tua memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kualitas keshalihan anak kelak, karena merekalah tempat pertama anak dalam belajar, madrasah pertama bagi anak-anaknya.
  2. Keburukan orang tua akan berdampak besar terhadap keburukan keturunannya, hal ini disebabkan seorang anak akan melihat dan mencontoh apa-apa saja yang dilakukan kedua orang tuanya. Maka merekalah penentu utama setelah Allah atas kebaikan dan keburukan generasi mereka, yang tentunya atas izin Allah -‘Azza wa Jalla-.
  3. Kedua orang tua yang shalih pasti akan membangun rumah tangganya diatas keshalihan, sehingga dari rumah tangga mereka inilah akan tumbuh generasi-generasi yang shalih pula.
  4. Kedua orang tua yang shalih akan senantiasa mendoakan kebaikan untuk keturunannya.

Allah -‘Azza wa Jalla- berfirman,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.”

(al Kahfi : 82)

Imam Ibnu Katsir menuturkan maksud ayat diatas: “Ayat ini menunjukkan bahwasanya keshalihan seseorang berpengaruh pada keshalihan keturunannya di dunia dan akhirat.”[4]

Dan dalam sebuah hadits shahih,

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- telah bersabda: “Tidaklah seorang bayi dilahirkan (ke dunia ini), melainkan ia berada dalam kesucian (fithrah). Kemudian orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.”

(Muttafaqun ‘Alaih)

Mengapa keshalihan kedua orang tua sangat berpengaruh? Karena orang tua yang shalih akan:

  1. Mengemban amanah dan tanggung jawab berupa amanah keturunan yang Allah embankan kepadanya dengan sebaik-baiknya.
  2. Memberikan pendidikan dan tarbiyah yang terbaik untuk keshalihan anak-anaknya serta memerintahkan dan memotivasi mereka  untuk melakukan ketaatan.
  3. Memberikan dan menjadi Qudwah (contoh yang baik) bagi anak-anaknya.
  4. Menjaga anak-anak mereka dari hal-hal yang dapat merusak baik jasmani maupun rohani.
  5. Senantiasa meminta dan memohon pertolongan kepada Allah untuk kebaikan anak-anaknya baik di dunia dan akhirat.

 

2)   Al Bi’atu Ash Shalihatu (Lingkungan yang Baik)

Tak dapat dipungkiri bahwasanya pengaruh lingkungan juga sangat besar dalam pembentukan karakter anak. Sehingga lingkungan sering disebut sebagai guru yang tak bernyawa. Nasihat syaikh Athiyyah Muhammad Salim, yang artinya: “Setiap anak asalnya adalah dilahirkan dalam keadaan fithrah, apabila dia terus di atas fithrahnya, niscaya akan tumbuh di atas hidayah, namun datang kepadanya faktor-faktor yang bisa merubahnya, kalau tidak datang dari orang tuanya, maka akan datang dari lingkungan masyarakatnya, sehingga bisa membelokkannya dari jalan yang lurus dan tersesat disebabkan masuknya pengaruh era baru.”[5]

Solusinya ialah dengan berpindah ke lingkungan yang jauh lebih baik keadaannya, sebagaimana yang dinasihatkan oleh seorang ‘alim, “…  Pergilah kamu ke negeri anu, karena di sana (tempat tinggal) orang-orang (shaleh) yang selalu beribadah kepada Allah, maka beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka, dan jangan kamu kembali ke negeri (tempat tinggal)mu karena negerimu itu adalah tempat yang buruk (banyak dihuni orang-orang yang suka berbuat maksiat) …” (Muttafaqun ‘Alaih)

Dalam riwayat lain, Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman”

(HR. Tirmidzi dan Abu Daud)

Seorang penyair (Tharafah bin ‘Abd) berkata: “Tentang seseorang, janganlah engkau bertanya kepada dirinya, namun cukuplah kau melihat temannya, karena sesungguhnya sesama teman akan saling mengikuti.”

Ada tiga lingkungan yang harus dijaga dengan baik:

  1. Lingkungan keluarga tempat dia tinggal
  2. Lingkungan masyarakat tempat dia bermain
  3. Lingkungan sekolah tempat dia belajar

Sehingga para orang tua hendaknya benar-benar memperhatikan ketiga lingkungan tersebut bagi tumbuh kembang anak-anaknya.

 

3)   Al ‘Ilmu Ash Shahihu (Ilmu yang shahih)

Ciri utama generasi Rabbani ialah berilmu, karena ilmu adalah landasan utama seseorang dalam bermuamalah baik dengan Allah, Rasul dan bahkan sesama manusia. Ilmu juga merupakan pondasi awal dan yang paling utama dalam mencetak generasi Rabbani. Dan ilmu jugalah yang dapat merubah karakter seseorang dari buruk menjadi baik, karena hanya dengan ilmulah seseorang akan:

  1. Bisa mengenal Allah, sehingga tumbuh rasa cinta dan takut kepada-Nya
  2. Bisa beribadah dengan baik dan semangat dalam mengamalkan ilmunya
  3. Bisa mengetahui yang halal dan yang haram serta yang haq dan yang bathil
  4. Bisa berakhlak mulia dan berbudi luhur, baik dalam perkataan maupun perbuatan
  5. Bisa berdakwah ‘amar ma’ruf nahi munkar dengan baik dan hikmah.

Ilmu dalam hal ini ialah ilmu syar’i (agama) yang dibangun di atas al-Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman para Salafush Shalih (para Shahabat Nabi dan generasi yang mengikuti mereka dengan baik).

 

4)   Al Mu’allimu Ar Rabbaniyyu (Guru yang Rabbani)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash -radhiyallahu ‘anhu-, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الله لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً، فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu itu secara tiba-tiba dengan mencabutnya dari hamba-hambanya akan tetapi Allah mencabut ilmu itu dengan mencabut/mewafatkan para ulama hingga tidak ada lagi orang yang berilmu. Sehingga manusia menggambil pemimpin bodoh. Sehingga mereka ditanya dan berfatwa tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan”

(Muttafaqun ‘Alaih)

Imam Malik bin Anas menuturkan, “Ilmu ini adalah daging dan darah kalian dan akan ditanya di hari kiamat, maka hendaknya kalian melihat darimana mengambilnya.” [6]

Adapun karakter-karakter guru yang Rabbani ialah:

  1. Memiliki aqidah yang shahih dan manhaj yang lurus
  2. Memiliki kekuatan ilmu yang berlandaskan al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para salafush shalih
  3. Memiliki kemuliaan akhlak.

 

Wallahu A’lam..

Penulis: Ummu Musa

 


Footnote:

[1]   Lihat Kitab Mu’jam Gharibul Qur’an. 1/24

[2]   Lihat Aysaruttafasir, karya Syaikh Abu Bakr al-Jazairi. 1/179

[3]   Lihat Tafsir At-Thabari, terbitan Maktabah Daar Hajar. 5/531

[4]   Lihat Tafsir Ibnu Katsir, terbitan Maktabah Daar At-Tahaibah. 5/186

[5]   Lihat Syarah Arba’in

[6]   Lihat Kitab Haddul Faashil, Hal 416


Referensi:

[1]   Mencetak Generasi Rabbani, karya Fachruddin Nu’man, Lc

[2]   Rumaysho.com

[3]   Asysyariah.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*